Maksud Penginjilan bagi Jemaat Misioner

Maksud Penginjilan bagi Jemaat Misioner

                        Sebagai rekan sekerja Allah di dunia, Gereja diharapkan mampu membuka cakrawala berpikir mereka tentang tugas pemberitaan Injil. Sebagaimana denyutan jantung yang menandakan kehidupan jasmani, demikian pula pemberitaan Injil menentukan keberlangsungan hidup Gereja sebagai sarana perwujudan rencana Allah di dunia. Ada berbagai pemahaman mengenai wacana dan praktik pemberitaan Injil yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Menurut Maitimoe, sebagian besar pemahaman tersebut tertuju pada kesibukan dan kepentingan gereja itu sendiri. Sebab pun orang-orang sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan diri kepada Kristus, pada akhirnya juga diminta untuk melayani gereja.[1]

                        Untuk lebih memahami tentang hal ini, Maitimoe mengutip pemahaman seorang pelopor pemberitaan Injil di Taiwan pada era 60-an, George Todd. Dari pengalamannya, ia menyimpulkan bahwa pola pemberitaan Injil saat itu seperti “pukat ikan” yang tujuannya tidak lain adalah “melipat-gandakan gereja”. Fokusnya ialah pada bagaimana mendapat tanah untuk membangun gereja atau pada seberapa banyak orang yang dibaptis. Padahalmenurut Todd, pola yang menjawab Amanat Agung lebih seperti “menara lampu”. Pola ini menaruh fokusnya pada soal bagaimana anggota inti itu dapat bertindak sebagai sarana proklamasi Injil.

                        Dari pengertian ini jelas bahwa potensi pemberitaan Injil terletak pada warga gerejanya sendiri, bukan (hanya) di tangan para klerus. Oleh sebab itu, istilah “kaum awam” tidak lagi relevan untuk menunjuk pada jemaat. Kita harus memandang diri sebagai warga gereja yang merupakan “front terdepan” dari Gereja, pelopor-pelopor pekabaran Injil yang membangun bersama dengan masyarakatsekitar di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.[2] Warga jemaat menemukan fungsinya saat masuk dalam dunia yang sekuler ini. Dengan kata lain, warga jemaat bukanlah objek yang berada di luar sistem, melainkan subjek yang menggerakkan sistem itu sendiri. Warga jemaat tidak mendikte apa yang harus dilakukan Gereja, melainkan terlibat langsung dalam menghadirkan serta memberlakukan Injil Kristus bagi dunia. (By: Vik. GNK)

 


[1] D.R. Maitimoe, Pembangunan Jemaat Misioner, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1978), hlm. 29.

[2]Ibid., hlm. 30.

Arsip

Pengguna baru

  • jewelltm4
  • Milaniacify
  • Robertspilk
  • Kevincag
  • Davidvon

Login Form