Pola-pola Berjemaat dan Hubungannya dengan Tugas Misi

Pola-pola Berjemaat dan Hubungannya dengan Tugas Misi

Oleh Vik. Gloria Kansil

(Berdasarkan buku Pembangunan Jemaat Misioner,1978, D.R. Maitimoe)

                Dunia Perjanjian Baru telah menggambarkan prinsip-prinsip pola berjemaat yakni adanya fleksibilitas dan kepelbagaian yang berlandaskan keesaan. Prinsip-prinsip ini pun telah membentuk pemahaman Gereja mengenai dirinya sendiri dan mengenai bentuk-bentuk sosial budaya masyarakat di sekitarnya. Prinsip-prinsip dalam Perjanjian Baru ini sedikit banyak turut mempengaruhi pola perkembangan Gereja di setiap zamannya. Namun demikian, tidak berarti struktur-struktur berjemaat Perjanjian Baru diikuti secara mutlak oleh hidup kegerejaan dalam perkembangannya.

                Dalam bab-bab selanjutnya di buku ini, Maitimoe menggambarkan dengan lebih rinci bagaimana pola-pola berjemaat di setiap periodenya, secara khusus perkembangannya di Asia. Pola-pola berjemaat di Asia dapat dilihat dalam beberapa periode sejarah yang melatarbelakanginya, yakni zaman Kerajaan Romawi, era abad-abad kegelapan, abad-abad pertengahan, era reformasi hingga reformasi radikal. Ambil satu contoh yakni masa Kerajaan Romawi. Perbedaan gambaran pola hidup berjemaat jelas terlihat pada peralihan masa Perjanjian Baru ke masa pemerintahan Kerajaan Romawi. Pada masa ini ada pemisahan tegas antara kaum rohaniawan dan kaum awam. Pemisahan ini mempengaruhi struktur jemaat yang sepenuhnya ditentukan oleh kaum rohaniawan. Sifat kepelbagaian dan fleksibilitas khas Perjanjian Baru diganti dengan keseragaman dan sistem pengawasan satu arah.[1]Dampaknya ialah selama berabad-abad lamanya, perhatian gereja terhadap masyarakat bahkan dunia menjadi sempit dan terbatas. Perkara-perkara yang terjadi di luar Gereja adalah soal asing yang bukan menjadi urusan Gereja, tetapi pemerintah. Gereja hanya sibuk dengan lingkungan peribadahannya sendiri. Dengan kata lain, dari segi missioner, Gereja berada pada masa “diam di tempat”. Keadaan ini berlanjut pada masa-masa selanjutnya, bahkan hingga periode reformasi.

                Maitimoe tidak hanya mengamati perkembangan historis gerakan misi Gereja secara global, tetapi lebih spesifik lagi di Asia. Negara-negara di Asia Utara, Asia Tengah dan Asia Tenggara menjadi fokusnya dalam memetakan soal tugas Gereja yang missioner. Dari pengamatannya ini, Maitimoe menemukan bahwa walaupun kecil namun telah ada usaha dari Gereja-gereja di Asia untuk keluar dari posisi diam di tempat tersebut. Usaha itu tentunya tidak dimulai dari hal-hal besar di luar Gereja, tetapi dari hal kecil di dalam Gereja itu sendiri. Maitimoe menjelaskan bahwa perubahan itu dimulai dengan  menyadari apa yang menjadi penghalang/ tantangan dalam pembaruan, kemudian apa yang menjadi syarat dari pembaruan. Setelah melewati tahap pertama ini, maka tahap selanjutnya menurut Maitimoe ialah mengusahakan pola-pola baru di dalam jemaat untuk mendapatkan struktur jemaat yang missioner.[2] Hal ini tidak mudah, karena dibutuhkan kesadaran dan keterbukaan untuk menerima perubahan zaman di mana jemaat ada di dalamnya.

                Setelah menentukan struktur-struktur yang sesuai dengan kebutuhan tugas missioner, maka saatnya Gereja bergerak memproklamasikan Injil. Tentu saja proklamasi Injil saat Maitimoe menulis buku ini berbeda “pergerakannya” dengan situasi jemaat Kristen saat ini. Pergerakan Gereja sebagai jemaat missioner ini tidak lain adalah pembinaan yang mengusahakan Gereja dan Masyarakat menjadi kawan sekerja Allah di dunia ini.  Pembinaan ini tidak hanya dilaksanakan satu kali, tetapi terus-menerus sebagaimana zaman yang berubah terus-menerus.

 


[1]D.R. Maitimoe, Pembangunan Jemaat Misioner, (1978, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 101

[2] Pembaruan struktur jemaat lebih detail dapat dibaca di halaman 236-270.

Arsip

Pengguna baru

  • telcosalivan
  • MichaelClind
  • Davidsob
  • CurtisDox
  • addiecr16

Login Form