Dasar Teologis Pembinaan Jemaat Misioner

Dasar Teologis Pembinaan Jemaat Misioner

Oleh Vik. Gloria Kansil

(D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, 1984)

                Adalah suatu hal yang baik ketika D.R. Maitimoe dalam buku pertamanya (Pembangunan Jemaat Misioner, 1978) telah membuka pemikiran Gereja tentang keberadaanya sebagai rekan sekerja Allah di dunia. Tidak hanya membuka cakrawala berpikir, tetapi juga menggerakkan Gereja untuk menata (baca: membaharui) dirinya sedemikian rupa sebagai jemaat yang misioner. Buku pertama tersebut kemudian merangsang jemaat untuk menentukan langkah-langkah praktis membentuk pola jemaat yang misioner. Berdasarkan kebutuhan itulah, maka buku kedua yang ditulisnya pada tahun 1984 ini ditulis. Buku dengan judul Membina Jemaat Misioner ini memuat banyak konsep teologis mengenai jemaat misioner. Menurut penulis, jika dihayati dengan seksama maka konsepsi teologis ini mengarahkan pembaca pada penerapan operasional yang meminta keterbukaan dalam eksperimentasi.[1]

                D.R. Maitimoe memulai buku kecilnya ini dengan memaparkan empat dasar teologis jemaat misioner. Pertama, Gereja (jemaat) hidup bukan untuk dirinya, melainkan untuk yang lain, yaitu untuk dunia (Yoh 3:16, 17:13-23). Kedua, karena jemaat tidak hidup untuk dirinya sendiri melainkan untuk dunia, maka ia diikutsertakan dalam karya penyelamatan Allah (Missio Dei). Ketiga, pembinaan jemaat yang misioner secara langsung melibatkan warga jemaat untuk siap diutus ke dalam dunia (Kis. 2:40-47, Ef. 4:11-16). Keempat, pembinaan itu bersifat terbuka, luwes, dinamis, dialogis terhadap konteks, namun bersikap kritis, positif, kreatif dan realistis (Rm. 1:14, 12:1-2, 1 Kor 9:19-23). Keempat dasar teologis ini sesungguhnya telah dipaparkannya lebih luas dalam buku pertamanya, Pembangunan Jemaat Misioner.

                Setelah merumuskan empat dasar teologis tersebut, kemudian penulis mengemukakan konsep Alkitabiah mengenai jemaat misioner yakni dinamika Roh Kudus. Menurutnya, tidak ada pekabaran Injil, pertobatan, pelayanan, pembinaan dan pertumbuhan jemaat yang terlepas dari karya Roh Kudus. Roh Kuduslah yang merupakan dinamika Ilahi yang menghasilkan kualitas maupun kuantitas dalam pembinaan jemaat misioner. Gagasannya ini berangkat dari peristiwa Pentakosta (Kis. 2) yang menandai dimulainya pertumbuhan jemaat yang melaksanakan amanat Kristus (Mat. 28:18-20). Oleh karena itu, Gereja (jemaat) perlu mengembangkan kesadaran sekaligus pemahaman bahwa tugas misi tersebut hanya mungkin terjadi karena pekerjaan Roh Kudus.

                Konsep Alkitabiah selanjutnya yang menjadi dasar pembinaan jemaat misioner menurut Maitimoe ialah strategi pelayanan yang diungkapkan Kristus, kebanyakan melalui perumpamaan-perumpaan di dalam kitab-kitab Injil. Di antaranya yakni perumpamaan tentang talenta (Mat. 25), perumpamaan tentang seorang penabur (Mat. 13-23), perumpamaan tentang tuaian yang banyak dengan pekerja yang sedikit (Mat. 9:37-38). Masing-masing strategi memiliki penekanannya sendiri. Perumpamaan tentang talenta, misalnya. Berhasil atau tidaknya membangun dan membina jemaat missioner sangat bergantung pada warga gereja yang memfungsikan dengan sebaik mungkin karunia-karunia rohani yang dimilikinya.[2] Kemudian perumpamaan dalam Matius 9:37-38 menekankan pengelolaan dana dan daya yang diinvestasikan dalam membangun jemaat misioner. Namun demikian, strategi maupun metode manapun, tidak dapat diterapkan pada semua kondisi jemaat.

 


[1]D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, (1984, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 8.

[2] Ibid., hlm. 23.

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form