Dasar Teologis Pembinaan Jemaat Misioner (2)

Dasar Teologis Pembinaan Jemaat Misioner (2)

Oleh Vik. Gloria Kansil

(D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, 1984)

                Setelah membahas beberapa konsep teologis mengenai jemaat missioner, Maitimoe kemudian mencoba meninjau beberapa gejala yang menghambat upaya pembangunan dan pembinaan jemaat yang missioner. Menurutnya, salah satu penyebabnya ialah pola parokial yang diwarisi dari zaman zending dulu. Pola parokial yang dimaksud di sini ialah pola kepemimpinan di dalam jemaat yang bertumpu pada perorangan, yakni tertuju pada para pejabat gereja (kaum klerus). Pola parokial ini cenderung memposisikan warga jemaat sebagai obyek (sasaran) dari pelayanan jemaat. Secara sistematis, jemaat tidak diikutsertakan dalam pelayanan Gereja. Kepasifan peran warga jemaat ini semakin menutup kemungkinan Gereja dapat membangun hubungan dengan golongan fungsional maupun kategorial di dalam masyarakat saat ini. Tidak hanya kaum elit politis, Gereja pun semakin jauh dari mereka yang miskin, tak berdaya, tersudut bahkan terbuang dalam masyarakat. Padahal mereka inilah sasaran misi Gereja. Pola seperti ini pada akhirnya membuat Gereja menjadi umat yang menutup diri. Artinya, perhatian dan kegiatannya dipusatkan pada kepentingan dan kebutuhan, pada pemeliharaan dan pengurusan jemaat sendiri. Suasana dan iklim jemaat dihayati lepas dari realitas kehidupan sehari-hari dalam dunia di mana warga gereja itu sendiri terlibat dan berkecimpung.[1]

                Oleh karena itu, Maitimoe, dalam bukunya ini, mengajak pembaca untuk mempertimbangkan konteks masyarakat dimana warga jemaat tinggal serta dinamika-dinamikanya yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan berjemaat. Bagi Maitimoe, konteks warga jemaat Indonesia ialah kepelbagaian sosio-budayanya dan ini berdampak pada dinamika kepemimpinan dan juga kependudukan. Keadaan masyarakat Indonesia tidak statis melainkan berkembang pesat dan cepat karena modernisasi dan pembangunan, sehingga berbagai jenis tata hidup sosial budaya di masyarakat kita pun mengalami perubahan dan pembaruan dalam bentuk maupun fungsi. Apakah artinya kepelbgaian jenis dan lingkungan sosial budaya itu dalam rangka membina jemaat missioner? Maitimoe menegaskan, “orang yang mau menjadi Kristen tidak boleh mengkhianati atau meninggalkan lingkungan sosial budaya sendiri.”[2] Maka dari itu, membina jemaat missioner berarti membina melalui kepelbagaian pertumbuhan dan perkembangan sosio-budaya di Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada satu pun pola yang berlaku di semua tempat.

                Sebagai kesimpulan, Maitimoe menegaskan membina jemaat missioner baru akan mempunyai arti apabila prinsip “jemaat bersama-sama dengan yang lain” dikembangkan dalam kondisi ekumenis maupun nasional masa kini. Jemaat hendaknya sadar dan mau terlibat dalam proses pembangunan dimana terjadi perubahan-perubahan yang pesat dan cepat. Pembinaan jemaat missioner selalu dimulai dari jemaat yang ada, kecil maupun besar jumlahnya.


[1] D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, (1984, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 32.

[2]Ibid., hlm. 34.

Arsip

Pengguna baru

  • addiecr16
  • BuyBitcoin
  • Dilcer
  • zzarcosys
  • Martha Urige

Login Form