Dasar-dasar Eksistensi GPIB

Dasar-dasar Eksistensi GPIB

(Berdasarkan buku Bahtera Guna Dharma GPIB oleh Pnt. S.W. Lontoh dan Pdt. Hallie Jonathans, 2014)

Oleh Vik. Gloria Nathalia Kansil

                “Buku Pintar” GPIB, kira-kira begitulah gambaran buku setebal 626 halaman ini. Buku yang merupakan penyuntingan ulang sejarah GPIB ini memuat tidak hanya informasi-informasi statis dari sejarah GPIB, atau sekedar mengemukakan pokok-pokok penting dalam sejarah, melainkan juga mengarah pada analisis keterkaitan peristiwa satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, buku yang dijuluki “buku pintar” ini lebih dari sekedar ensiklopedia, melainkan panduan bagi para pembaca untuk melihat bagaimana GPIB eksis sejak keberadaanya tahun 1948 hingga kini, tidak lepas dari pergumulan-pergumulan di masa lampau, masa kini, dan harapannya di masa mendatang. Setiap bagian dari sejarahnya diusahakan berbicara dari seginya secara bebas, reflektif dan terbuka untuk perubahan dan pembaharuan.[1]

                Kedua penyunting memulai tulisannya dengan satu kesadaran bahwa GPIB sejak awal berdirinya, mengambil langkah-langkah yang jika ditinjau lebih dalam sebenarnya hanya untuk menjaga kelanggengan Gereja sebagai sebuah institusi di dunia. Oleh karena itu, mereka menyadari betul bahwa GPIB ditantang untuk menetapkan tujuan kehadirannya secara lebih nyata dalam pergumulan bangsa dan Negara Indonesia. Tugas misi yang diemban Gereja berarti menemukan permasalahan-permasalahan pokok yang dihadapi bangsa dan Negara, dan kemudian menyampaikan kehendak Allah atas persoalan itu. Dengan semangat misioner inilah, buku Bahtera Guna Dharma ditulis.[2]

                Bab I memuat pandangan-pandangan GPIB tentang eksistensinya. Dimulai dari soal wujud dan bentuk Gereja. Dari penjelasannya, nyata bahwa GPIB sejak tahun 1948 mengalami pergumulan terkait pandangan yang sesuai dan tepat mengenai wujud Gereja. Jika dalam TaGer tahun 1948 wujud Gereja dihubungkan langsung dengan kedudukan GPIB dalam kaitannya dengan GMIM, GPM dan GMIT dalam lingkungan GPI, maka TaGer tahun 1962 berusaha meletakkan uraian tentang wujud Gereja dalam hubungannya dengan tugas Gereja pada waktu dan tempat di mana Gereja itu dipanggil dan diutus.[3] Perubahan pandangan tentang Gereja ini mempengaruhi pemahaman tentang bentuk Gereja itu sendiri. Bentuk Gereja lama yang statis kini menjadi dinamis dan terbuka. Hal ini merupakan landasan bagi paham tentang Gereja (jemaat) misioner. Dari pembahasan mengenai wujud dan bentuk Gereja ini, kemudian penulis dalam sub-bab selanjutnya menegaskan bahwa GPIB adalah Gereja misioner. Untuk menguraikan tentang hal ini, mereka mengutip dua tulisan D.R. Maitimoe mengenai Jemaat Misioner, yakni Pembangunan Jemaat Misioner (1978) dan Membina Jemaat Misioner (1984).[4]

                Selanjutnya mengenai pandangan GPIB tentang tugas oikumenisnya. Pandangan ini harus dilandasi kesadaran bahwa eksistensi GPIB ialah multikultural. Karena itu, GPIB harus mengembangkan diri sedemikian rupa untuk terus hadir sebagai embrio atau katalisator dalam usaha oikumene. Dalam upaya ini, dituntut sebuah keterbukaan yang kreatif dari GPIB, baik dalam organisasinya maupun pelayanannya. Di samping itu juga, dituntut pergerakan inovatif yang mampu membuka kemungkinan luas bagi terwujudnya keesaan di Indonesia. Dengan demikian, upaya oikumenis pertama-tama bukan soal menghilangkan keberagaman, melainkan mengupayakan perjumpaan yang kreatif dan inovatif dalam lingkup sosial, ekonomi, kultur dan religius yang nyata antara gereja-gereja di Indonesia dengan lingkungan dimana ia hadir.


[1] S.W. Lontoh, Hallie Jonathans, Bahtera Guna Dharma GPIB, (2014, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. xv.

[2] Maksud judul buku ini menampakkan keberadaan GPIB dalam perjalanannya sepanjang sejarah dan pergumulannya mengarungi serta mengemban tugas-tugas gerejawi di dalam Kristus, Kepala Gereja, dan sebagai tubuh Kristus sendiri, hlm. xvii.

[3] Ibid., hlm. 8.

[4] Dua tulisan ini telah dirangkum dalam dua laporan buku sebelumnya.

Arsip

Pengguna baru

  • maryannyw60
  • RobertHip
  • Tomekadaurn
  • Deweynox
  • abookzLuts

Login Form