Latar Belakang Historis GPIB sebagai Jemaat Missioner

Latar Belakang Historis GPIB sebagai Jemaat Missioner

(Berdasarkan buku Bahtera Guna Dharma GPIB oleh Pnt. S.W. Lontoh dan Pdt. Hallie Jonathans, 2014)

Oleh Vik. Gloria Nathalia Kansil

                Bab I buku ini memperlihatkan betapa GPIB bergumul dengan keberadaannya di tengah-tengah konteks keberagaman Indonesia. Eksistensi multikultural ini mendorong GPIB untuk menetapkan fungsi dan tujuannya sebagai sebuah institusi yang digerakkan oleh tugas misionernya di bumi Indonesia. Setelah menjabarkan tentang bagaimana GPIB bergumul dengan keberadaannya, kini di bab selanjutnya dibahas tentang pergumulan GPIB yang terlihat dalam sejarah pembentukannya hingga kini. Sejarah pembentukan GPIB bukan merupakan perkembangan yang bertitik tolak pada suatu kegiatan zending, melainkan harus dilihat dalam hubungan yang erat dengan Gereja Protestan Indonesia (GPI).[1] GPIB berasal dari semua jemaat Gereja Prostestan Indonesia di luar lingkungan tiga gereja saudaranya, yaitu Gereja Masehi Injili Minahasa, Gereja Protestan Maluku, Gereja Masehi Injili Timor. Pada 31 Oktober 1948, GPIB diresmikan selaku gereja yang berdiri sendiri dalam lingkungan GPI.

                Salah satu ciri khas GPIB yang berlatar belakang historis GPI ialah ketergantungannya dengan pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian menggantikan VOC, selaku gereja Negara. Selama bertahun-tahun ia tidak bebas mengembangkan teologi, eksistensi dan tugas-tugas kesaksiannya. Karena itu, Gereja Protestan, yang pada masa itu dikenal dengan “De Indische Kerk”, umumnya tidak secara siap dan sadar dalam sikap dan cara pendekatannya terhadap orang-orang asli Indonesia.[2] Teologi Gereja disusun berdasarkan pola dan struktur Gereja Hervormd Belanda dan karenanya sama sekali tidak menolong Gereja Protestan dahulu untuk memperhatikan pola-pola kebudayaan asli. Ditambah lagi unsur-unsur agama tua yang merupakan sisa-sisa tradisi yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Kristen.[3] Hal ini mengakibatkan semakin asingnya Injil di tengah masyarakat yang belum percaya. Gereja pun menyadari gejala-gejala tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi sisa-sisa tradisi tersebut.

                Melalui bab dalam buku ini, nyatalah bahwa Gereja Prostestan sudah sejak perkembangannya bergumul dengan gejala Gereja Negara ini. Gereja Protestan yang merupakan cikal bakal GPIB telah melakukan usaha-usaha untuk mengadakan pemisahan antara Gereja dan Negara. Maksudnya ialah supaya Gereja dapat mengurus dirinya sendiri dalam melaksanakan tanggung jawabnya di tengah-tengah pola kemasyarakatan dan kebudayaan asli. Salah satu jalan yang dilakukan ialah membentuk gereja-gereja suku yang berdiri sendiri di lingkungan GPI, yakni GMIM, GPM, dan GMIT. Di samping itu, langkah baru yang memperlihatkan keterbukaan diri Gereja pada masyarakat sekitar ialah pemahaman tentang jemaat missioner. Wacana mengenai hal ini mulai muncul dalam Persidangan Sinode GPIB tahun 1960 di Gadok. Dalam pembicaraan ini, dengan tegas ditetapkan supaya orientasi dan pemikiran ulang terhadap Tata Gereja harus mengarahkan GPIB untuk lebih membuka diri pada masyarakat di sekitarnya. Tujuannya ialah supaya dapat berdialog tentang Injil Kristus dengan sesama manusia. Pemahaman tentang jemaat missioner ini kemudian dibicarakan lebih serius dalam Persidangan Sinode tahun 1964 di Bandung. Pada waktu itu, boleh dikata belum semua pendeta, majelis dan warga jemaat memiliki paham yang tepat terkait jemaat missioner. Oleh karenanya, jika paham tersebut sudah ditanamkan, maka semua program kegiatan yang menggerakkan segenap potensi jemaat di daerah maupun kota harus disusun secara sistematis. Suasana baru ini memperlihatkan satu langkah maju dalam sejarah perkembangan GPIB dalam mengemban tanggung jawabnya di bumi Indonesia.

 


[1] S.W. Lontoh, Hallie Jonathans, Bahtera Guna Dharma GPIB, (2014, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 154.

[2] Ibid., hlm. 145.

[3] Tiga formula keesaan (sola fide, sola scriptura, sola gratia) secara tidak langsung menuntut pemutusan hubungan mutlak dengan agama kafir (baca: kepercayaan-kepercayaan asli dalam masyarakat).

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form