Periode Pembangunan Jemaat yang Misioner

Periode Pembangunan Jemaat yang Misioner

(Berdasarkan buku Bahtera Guna Dharma GPIB oleh Pnt. S.W. Lontoh dan Pdt. Hallie Jonathans, 2014)

Oleh Vik. Gloria Nathalia Kansil

                Wacana mengenai jemaat misioner yang telah digaungkan sejak Persidangan Sinode tahun 1960 ini mendapat respon yang baik. Buktinya, pada Persidangan Sinode IX di Senayan, Jakarta, tahun 1966, diputuskan untuk menerapkan dan mewujudkan Bidang Pelayanan Khusus di dalam tubuh GPIB. Keputusan ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam catatan sejarah GPIB karena merupakan langkah awal dari periode pembangunan jemaat yang misioner. Kehadiran Bidang Pelayanan Khusus di GPIB ini membawa arti penting dalam hidup berjemaat karena menjembatani warga jemaat kepada pengenalan akan tugas tanggung jawabnya yang lebih besar. Melalui wadah BPK ini, setiap warga jemaat secara menyeluruh diberikan ruang untuk berkarya selaku bagian dari Gereja yang menjalankan amanat Kristus di dunia.

                Titik awal pembangunan jemaat yang misioner ini kemudian diikuti oleh pengembangan di segala bidang. Bab III hingga bab V memperlihatkan bagaimana GPIB mulai menetapkan secara serius keberadaannya sebagai institusi Ilahi di dalam dunia. Mulai dari bidang organisasi dan peraturan GPIB, penentuan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Umum Pelayanan Gereja (GBKUPG), mengenai pembinaan bagi para pendeta maupun warga jemaat, hingga soal tugas-tugas GPIB[1] selaku Gereja. Jika kita membaca bab-bab dalam buku ini, maka kita akan melihat betapa GPIB berusaha menetapkan dan menerapkan secara mendetail peraturan-peraturan gereja dengan tidak mengesampingkan tugas pekerjaannya. Sekalipun GPIB berada dalam cakupan daerah yang luas, namun usaha yang dilakukan tersebut memungkinkan GPIB secara organisasi dapat mencapai tujuannya yakni pembangunan jemaat yang mengikutsertakan seluruh anggota jemaat GPIB dalam pekerjaan pelayanan Kristus (missio Dei).

                Setelah menata diri sedemikian rupa secara internal, GPIB juga menetapkan fungsinya sebagai gereja yang juga terpanggil melayani di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam buku ini dipaparkan pula kegiatan GPIB yang melibatkan dirinya dalam bidang sosial, budaya, hubungan antar umat beragama, juga dengan pemerintah serta lembaga-lembaga Negara. Dalam bidang sosial, GPIB bergerak seirama dengan pembangunan bangsa dan Negara di bidang pendidikan. Contoh konkret pembangunan yang dilakukan oleh Gereja ialah pemberian beasiswa bagi anak-anak dari Kalimantan Barat. Di samping itu, pelajar dari daerah difasilitasi sebuah asrama mahasiswa di Yogyakarta. [2] Bukan hanya terhadap pendidikan formal, Gereja juga menaruh perhatian terhadap pendidikan non-formal. Partisipasi Gereja dalam bidang pendidikan ini tidaklah termasuk usaha kristenisasi. Tidak ada persyaratan “surat baptis” bagi seorang yang akan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan gereja. Keterlibatan ini sifatnya lebih humanistis sekalipun jelas bahwa humanisme ini berakar dalam amanat Kristus.[3] Setelah bidang pendidikan, bab VI buku ini juga mencatat bentuk partisipasi GPIB sebagai jemaat yang misioner dalam bidang sosial lainnya, yakni melakukan permukiman kembali bagi suku-suku di Punan Apoukayan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya dalam rangka membina suku-suku tersebut.[4]

                Rangkaian akhir dari “buku pintar” ini memaparkan refleksi kedua penulis berkaitan dengan pergumulan dan harapan GPIB ke depan. Analisa historis GPIB yang dijabarkan secara mendetail di bab-bab sebelumnya kini disempurnakan dengan refleksi teologis praktis mengenai apa yang belum dan masih terus diusahakan oleh GPIB. Bagian ini sangatlah penting untuk diperhatikan oleh seluruh GPIB (dalam hal ini, warga jemaat) guna meneruskan mata rantai sejarah itu. Buku ini tidak hanya mengupas secara detail dan jelas tentang GPIB, tetapi juga menampakkan keberadaan GPIB yang tidak terlepas dari pergumulan masa lampau dan masa kini serta harapannya di masa mendatang.

 


[1] Dalam buku ini disebut sebagai Catur Dharma GPIB yang mencakup persekutuan, pelayanan, kesaksian, hingga tugas ekumenis GPIB.

[2] S.W. Lontoh, Hallie Jonathans, Bahtera Guna Dharma GPIB, (2014, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 510.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form