Apa itu Calvinisme?

Apa itu Calvinisme?[1]

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

“Mengenal tradisi sama dengan mengenal diri sendiri”, demikianlah pernyataan Christiaan de Jonge dalam bukunya “Apa Itu Calvinisme?” Tradisi merupakan ciri khas yang menjadi identitas dari sebuah komunitas, termasuk di dalam persekutuan gereja. Tradisi akan senantiasa hidup dan mendarah daging dalam tubuh gereja sebab tradisi sudah merupakan ide pokok dari berdirinya sebuah gereja. Karena itu penting sekali bagi jemaat dalam tiap gereja untuk belajar mengenal sejarah dan tradisi gerejanya secara turun-temurun. Tradisi Calvinis sebenarnya bermula dari sebuah ungkapan dengan konotasi yang negatif untuk orang–orang yang dianggap terlampau setia pada ajaran Calvin. Karenanya, tradisi Calvinis juga bisa dipandang sebagai sebuah bentuk Protestantisme yang ditentukan oleh teologi Johannes Calvin.

Johannes Calvin merupakan seorang reformator yang meneruskan reformasi yang telah dirintis oleh Luther. Dapat dikatakan ia adalah tokoh penting yang menggerakan Reformasi Luther dalam perjalanan sejarah gereja Protestan. Perbedaan antara teologi Luther dan Calvin dilatarbelakangi  oleh perbedaan pendidikan. Walaupun Luther terbuka dengan Humanisme, namun ia merumuskan teologinya dalam konteks teologi gereja yang tradisional. Sementara, Calvin dididik dalam suasana Humanisme alkitabiah yang kritis terhadap teologi dan gereja tradisional. Karena perbedaan ini, teologi Calvin terlihat lebih sistematis dan ilmiah (bahkan rasional) dan lebih radikal dari teologi Luther yang masih berakar dalam teologi Abad Pertengahan.[2]

Simpati Calvin pada teologi Luther dan upayanya untuk meneruskan teologi yang berdasarkan Alkitab ini mendapat sambutan yang baik dari orang-orang Kristen zaman itu. Namun demikian, perjuangannya ini tidak berjalan mulus. Apalagi ketika raja Perancis mulai menindak bahkan menghambat gerakan Reformasi. Karena itu, sebagian besar sejarah gereja Protestan di Perancis adalah sejarah penghambatan bahkan penganiayaan. Jemaat-jemaat injili menganggap diri mereka “di bawah salib”, yaitu di bawah penghambatan.[3] Tidak sedikit orang Protestan yang melarikan diri dari Perancis ke negeri-negeri lain, seperti Belanda, Inggris dan Jerman. Dan dari bangsa-bangsa inilah, khususnya orang-orang Belanda yang menduduki Indonesia, sejarah Calvinisme di Indonesia dimulai.

 


[1] Judul artikel ini disesuaikan dengan judul buku karangan Christian de Jonge Apa itu Calvinisme?.

[2] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (2012, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 51.

[3] Ibid., hlm. 12.

Arsip

Pengguna baru

  • CharlesNem
  • noracx18
  • KennethAdhet
  • maryannyw60
  • RobertHip

Login Form