Teologi Calvinis II

Teologi Calvinis

(Berdasarkan buku “Apa Itu Calvinisme?” oleh Christian de Jonge)

Oleh Vik. Gloria Nathalia Kansil

Dalam gereja ada empat jabatan, yang menurut Calvin ditetapkan oleh Kristus sendiri sebagai Kepala Gereja, yakni gembala (pastor) atau pendeta, pengajar (doctor), penatua (ancien), dan diaken (syamas). Tugas pendeta adalah memberitakan Firman dan melayankan sakramen. Serta bersama dengan para penatua dan diaken, mengawasi kehidupan jemaat serta menegur anggotanya kalau perlu.

                Tata gereja menurut Calvin bertolak dari prinsip bahwa gereja Protestan di Perancis terdiri dari jemaat-jemaat. Jemaat setempat, yang dipimpin oleh majelis gereja, merupakan kesatuan yang paling kecil dalam gereja, bukan anggota secara perorangan. Titik tolak ini sesuai dengan pemahaman Calvin tentang gereja. Setiap persekutuan yang melayankan Firman serta Sakramen dan mempunyai jabatan-jabatan untuk melaksanakan tugas ini, adalah gereja dalam arti kata yang penuh. Sebagai konsekuensinya, para anggota gereja hanya berurusan secara langsung dengan gereja atau jemaat setempat, bukan dengan gereja sebagai keseluruhan. Tata gereja seperti ini disebut tata gereja presbiterial-sinodal sebab semua keputusan diambil pada tingkat presbyterium (penatua, diaken, pendeta). Sementara keputusan-keputusan yang menyangkut gereja dalam arti yang lebih luas diambil oleh sinode (lingkup provinsial, nasional).

                Mengenai siasat atau disiplin gereja, Calvin sangat berhati-hati merumuskannya mengingat penyalahgunaan kuasa kunci di Gereja Katolik Roma. Disiplin gereja di Gereja Katolik Roma telah menjadi sesuatu yang diatur secara terinci. Hukum gereja menetapkan hukuman yang tepat untuk setiap jenis pelanggaran, kapan seorang akan dikucilkan dan kapan ia akan diterima kembali. Waktu gereja memperoleh kuasa besar, ekskomunikasi dapat menjadi senjata penting, sebab pengucilan dari persekutuan gereja mempunyai konsekuensi bahwa seseorang dikucilkan dari pergaulan masyarakat.

                Yang dimaksudkan Calvin dengan disiplin adalah ketertiban di dalam gereja, usaha untuk menghindari dan menghilangkan dosa. Tujuan utama disiplin adalah mempertahankan kesucian gereja sebagai persekutuan yang merayakan Perjamuan Kudus, supaya nama Allah tetap dipermuliakan dan tidak dicemarkan. Di samping itu, disiplin harus melindungi orang-orang baik di dalam gereja, supaya kesusilaan mereka tidak dirusakkan oleh pergaulan dengan orang-orang jahat. Sementara orang-orang jahat itu harus didorong, melalui teguran dan hukuman, untuk bertobat.

Setelah gereja, pembaharuan Calvinis juga masuk dalam persoalan peribadahan karena ada hubungan yang erat antara ajaran gereja dan ibadah. Gereja mengungkapkan imannya dalam ibadah. Didorong oleh alasan itu, maka gerakan reformasi juga menata kembali tata ibadah Gereja Katolik Roma. Dalam misa Katolik, seluruh ibadah memuncak pada perayaan ekaristi (Perjamuan Kudus). Semua yang mendahului ekaristi dianggap sebagai pengantar saja, termasuk khotbah. Ekaristi dianggap sebagai korban yang mengulangi korban Kristus pada kayu salib dengan cara yang tak berdarah. Sementara, asas Reformasi sola gratia tentunya memberi pemahaman lain mengenai peranan Perjamuan Kudus. Ditambah lagi asas sola scriptura membuat khotbah diberi tempat yang lebih penting dalam ibadah.  Inti dari Reformasi adalah Pemberitaan Firman Allah merupakan pusat setiap ibadah.

Sementara untuk nyanyian-nyanyian gerejawi, gerakan reformasi yang dilakukan Calvin ialah menggunakan mazmur-mazmur Perjanjian Lama sebagai lagu jemaat. Mazmur-mazmur, menurut Calvin, adalah nyanyian-nyanyian yang paling layak untuk memuji Allah karena diciptakan oleh Roh Kudus. Kalau kita menyanyikan mazmur-mazmur, kita memakai kata-kata yang berasal dari Allah sendiri. Alasan ini sesuai dengan ajaran Calvin tentang Alkitab.

                Setelah nyanyian-nyanyian gerejawi, gerakan reformasi yang dilakukan juga menyentuh hakekat sakramen. Bagi Calvin, sakramen adalah suatu tanda lahiriah (simbolum) yang dipakai Allah untuk memeteraikan dalam batin kita pemberian Allah dengan maksud untuk memperkuat iman dan mengundang respons manusia. Pada gereja Protestan diakui ada dua sakramen yakni Baptisan dan Perjamuan Kudus. Sementara peneguhan sidi, perkawinan dan pemakaman dianggap sebagai bagian dari pelayanan gereja.

Arsip

Pengguna baru

  • velocioyv
  • janniekh16
  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect

Login Form