Calvinisme di Indonesia

Calvinisme di Indonesia

(Berdasarkan buku “Apa Itu Calvinisme?” oleh Christian de Jonge)

Oleh Vik. Gloria Nathalia Kansil

Gereja-gereja Protestan di Indonesia mendapat pengaruh dari ajaran Calvinis. Kekristenan Protestan di tanah air yang diperkenalkan pada awal abad ke-17 terjadi dalam bentuk Calvinisme. Gereja Protestan yang didirikan pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengikuti pola Gereja Gereformeerd di Belanda. Dalam pola ini, tata gereja disusun berdasarkan tata gereja Sinode Dordrecht, yang bercorak Presbiterial-sinodal. Corak tata gereja ini adalah di dalamnya dijaga baik hak masing-masing jemaat maupun keseragaman seluruh gereja, tanpa terjebak bahaya sentralisme, seperti terjadi dalam struktur Gereja Katolik Roma.[1]Ajaran yang berlaku adalah ajaran Calvinis yang ada dalam tiga dokumen pengakuan Gereja Gereformeerd di negeri Belanda. Adapun pengaruh Calvinis secara lahiriah tampak melalui gereja-gereja di pulau Ambon. Jemaat Kristen di pulau ini sungguh-sungguh dan setia dalam pemeliharaan gaya hidup Kristen, namun sangat kurang dididik dalam Alkitab dan ajaran untuk menjadi orang-orang Calvinis dalam segala urat dan akarnya. Misalnya dalam hal keterlibatan untuk melayani sebagai diaken, penatua, termasuk sebagai pendeta.

Adapun gereja Protestan yang melanjutkan gereja zaman VOC diselengarakan sebagai lembaga negara untuk kesusilaan dan urusan keagamaan, yang hampir tidak memperlihatkan ciri-ciri khas Calvinis yang diwarisi. Memang dalam hal struktur masih dipakai istilah-istilah Calvinis, namun dalam gagasan teologis mengenai gereja yang melatarbelakangi tata gereja Calvin ditinggalkan. Lalu pada akhir zaman pekabaran Injil, sejak tahun 1920-an, terjadi suatu gerakan “recalvinisasi”  di wilayah-wilayah yang dilayani oleh Gereja Protestan dan daerah-daerah pekabaran Injil di luar kantong-kantong Gereformeerd. Gerakan ini disebabkan oleh dua hal, yakni pada satu pihak oleh reorganisasi Gereja Protestan dan pada lain pihak oleh gerakan yang bertujuan untuk memandirikan gereja-gereja hasil pekabaran Injil. Kedua gerakan ini berjalan sejajar dan dalam kaitan yang erat. Oleh karena proses “recalvinisasi” ini, ciri khas Calvinis yang paling mencolok di Indonesia adalah tata gereja. Dan oleh karena ikatan sejarah dengan gereja-gereja Belanda, banyak gereja Protestan mempunyai kaitan dengan tradisi Calvinis. Akan tetapi karena pembinaan yang kurang pada zaman VOC dan karena keinginan kebanyakan pekabar Injil untuk tidak mengganggu orang-orang Indonesia dengan masalah-masalah teologis khas Barat, pengaruh tradisi Calvinis tidak mencolok di bidang ajaran. Pengaruhnya biasanya hanya ditemukan melalui istilah-istilah yang khas Calvinis, misalnya: perjanjian, kemuliaan Allah, tanda dan meterai (untuk sakramen). Ada beberapa teolog yang dengan jelas dididik dalam tradisi Gereformeerd atau Hervormd, mengemukakan pemahaman yang agak khas Calvinis, seperti tentang Alkitab, Hukum Taurat atau kedaulatan Allah.

Jadi buku ini menjadi salah satu bentuk upaya menjawab kebutuhan atas kurangnya pemahaman tentang tradisi Calvinis oleh gereja-gereja di Indonesia. Gereja-gereja mulai kembali berpikir tentang latar belakang Calvinis. Di sini juga dibahas pemahaman Calvin mengenai Alkitab dan warisan-warisan Calvin yang dapat diterapkan oleh gereja-gereja di Indonesia. Dengan penjelasan ini maka diharapkan gereja di Indonesia dapat memahami dengan lebih baik ciri khas gerejanya dan dapat melihat keterikatannya sebagai bagian dari gereja-gereja sedunia.



[1] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (2012, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 371.

 

Calvinisme di Indonesia

(Berdasarkan buku “Apa Itu Calvinisme?” oleh Christian de Jonge)

Gereja-gereja Protestan di Indonesia mendapat pengaruh dari ajaran Calvinis. Kekristenan Protestan di tanah air yang diperkenalkan pada awal abad ke-17 terjadi dalam bentuk Calvinisme. Gereja Protestan yang didirikan pada masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengikuti pola Gereja Gereformeerd di Belanda. Dalam pola ini, tata gereja disusun berdasarkan tata gereja Sinode Dordrecht, yang bercorak Presbiterial-sinodal. Corak tata gereja ini adalah di dalamnya dijaga baik hak masing-masing jemaat maupun keseragaman seluruh gereja, tanpa terjebak bahaya sentralisme, seperti terjadi dalam struktur Gereja Katolik Roma.[1]Ajaran yang berlaku adalah ajaran Calvinis yang ada dalam tiga dokumen pengakuan Gereja Gereformeerd di negeri Belanda. Adapun pengaruh Calvinis secara lahiriah tampak melalui gereja-gereja di pulau Ambon. Jemaat Kristen di pulau ini sungguh-sungguh dan setia dalam pemeliharaan gaya hidup Kristen, namun sangat kurang dididik dalam Alkitab dan ajaran untuk menjadi orang-orang Calvinis dalam segala urat dan akarnya. Misalnya dalam hal keterlibatan untuk melayani sebagai diaken, penatua, termasuk sebagai pendeta.

Adapun gereja Protestan yang melanjutkan gereja zaman VOC diselengarakan sebagai lembaga negara untuk kesusilaan dan urusan keagamaan, yang hampir tidak memperlihatkan ciri-ciri khas Calvinis yang diwarisi. Memang dalam hal struktur masih dipakai istilah-istilah Calvinis, namun dalam gagasan teologis mengenai gereja yang melatarbelakangi tata gereja Calvin ditinggalkan. Lalu pada akhir zaman pekabaran Injil, sejak tahun 1920-an, terjadi suatu gerakan “recalvinisasi”  di wilayah-wilayah yang dilayani oleh Gereja Protestan dan daerah-daerah pekabaran Injil di luar kantong-kantong Gereformeerd. Gerakan ini disebabkan oleh dua hal, yakni pada satu pihak oleh reorganisasi Gereja Protestan dan pada lain pihak oleh gerakan yang bertujuan untuk memandirikan gereja-gereja hasil pekabaran Injil. Kedua gerakan ini berjalan sejajar dan dalam kaitan yang erat. Oleh karena proses “recalvinisasi” ini, ciri khas Calvinis yang paling mencolok di Indonesia adalah tata gereja. Dan oleh karena ikatan sejarah dengan gereja-gereja Belanda, banyak gereja Protestan mempunyai kaitan dengan tradisi Calvinis. Akan tetapi karena pembinaan yang kurang pada zaman VOC dan karena keinginan kebanyakan pekabar Injil untuk tidak mengganggu orang-orang Indonesia dengan masalah-masalah teologis khas Barat, pengaruh tradisi Calvinis tidak mencolok di bidang ajaran. Pengaruhnya biasanya hanya ditemukan melalui istilah-istilah yang khas Calvinis, misalnya: perjanjian, kemuliaan Allah, tanda dan meterai (untuk sakramen). Ada beberapa teolog yang dengan jelas dididik dalam tradisi Gereformeerd atau Hervormd, mengemukakan pemahaman yang agak khas Calvinis, seperti tentang Alkitab, Hukum Taurat atau kedaulatan Allah.

Jadi buku ini menjadi salah satu bentuk upaya menjawab kebutuhan atas kurangnya pemahaman tentang tradisi Calvinis oleh gereja-gereja di Indonesia. Gereja-gereja mulai kembali berpikir tentang latar belakang Calvinis. Di sini juga dibahas pemahaman Calvin mengenai Alkitab dan warisan-warisan Calvin yang dapat diterapkan oleh gereja-gereja di Indonesia. Dengan penjelasan ini maka diharapkan gereja di Indonesia dapat memahami dengan lebih baik ciri khas gerejanya dan dapat melihat keterikatannya sebagai bagian dari gereja-gereja sedunia.


[1] Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme?, (2012, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 371.

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form