Robert Raikes dan Perkembangan Sekolah Minggunya

Robert Raikes dan Perkembangan Sekolah Minggunya

(Berdasarkan buku Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek

Pendidikan Agama Kristen, 2009)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

                Dalam pojok Ngejaman edisi yang lalu, telah dilihat sekilas sejarah perkembangan pemikiran dan praktik Pendidikan Kristiani sejak zaman Reformasi. Kali ini kita akan membahas lebih dalam tentang sang pencetus gagasan Sekolah Minggu dan latar belakang yang mendorongnya. Robert Raikes bertumbuh di tengah-tengah masyrakat yang sedang bergumul dengan Revolusi Industri. Melihat dampak buruk dari Revolusi Industri pada saat itu, membuat Robert Raikes prihatin terhadap nasib kaum miskin yang disebut Boehlke sebagai hasil dari “masyarakat mesin”. Sebenarnya keprihatinan Raikes ini diteruskan dari ayahnya yang melalui perusahaan surat kabarnya ini berusaha mendobrak para penguasa untuk mengambil tindakan terhadap nasib kaum buruh dan masyarakat miskin. Keadaan sosial terlebih ekonomi saat itu mendesak para buruh dan menyebabkan banyaknya orang, baik anak kecil, pemuda maupun orang tua yang hidup melarat. Boehlke menambahkan bahwa kehidupan mereka bahkan lebih buruk dari keadaan kaum budak. Ditambah lagi dengan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap para narapidana. Hal ini terlihat dalam artikel-artikel yang dikarangnya. Selama bertahun-tahun, Raikes tidak lelah mengupayakan perbaikan nasib para narapidana, meskipun usahanya itu dicemooh oleh banyak orang. Usahanya ini membuahkan hasil untuk sementara waktu, namun kemudian beralih lagi pada kebijaksanaan kejam para penguasa. Akan tetapi, setidaknya kebiasaan buruk dalam penjara telah berkurang dan gaya hidup para narapidana telah sedikit banyak berubah.

                Namun demikian, ia tidak merasa bangga melihat keadaan anak-anak kaum buruh pada suatu siang di hari minggu. Anak-anak yang pada hari minggu terbebas dari pekerjaanya melakukan tindakan yang tidak terpuji. Raikes melihat tindakan mereka ini sebagai persiapan untuk melakukan kejahatan dan kembali menjadi narapidana di kemudian hari. Hal inilah yang memberikan Raikes ide untuk mencari jalan keluar bagi kebebasan tenaga muda yang disia-siakan ini. Dari sini muncullah gagasan untuk mendirikan sekolah sederhana bagi anak-anak miskin itu. Ia meminta bantuan seorang ibu untuk mendidik anak-anak ini. Namun karena kenakalan kelompok anak laki-laki ini, Raikes harus kembali mencari seorang ibu yang rela mendidik anak-anak ini. Boehlke juga menyebutkan nama seorang pendeta jemaat Saint John the Baptist yang merangkap kepala sekolah katedral di Gloucester, Thomas Stock, sebagai rekan sekerja Raikes dalam memprakarsai sistem pendidikan Sekolah Minggu itu.

                Dampak dari perkembangan sekolah minggu itu sendiri sangat kontroversial bagi keadaan masyarakat saat itu. Anak-anak yang telah mampu membaca dan menulis ini ternyata membahayakan bagi para penguasa karena mereka dapat membaca mengenai Revolusi Industri yang terjadi pada saat itu yang dianggap telah menjadi suatu ketertiban sosial. Penolakan ini langsung ditujukan pada Raikes. Raikes dituduh telah mencemari kesucian hari sabat karena ia berada di kantor percetakannya dan juga mengajar di hari suci tersebut. Tentu saja Raikes langsung menolak kecaman tersebut dengan berdasarkan pada jawaban Yesus ketika Dia juga dikecam karena memetik gandum di hari sabat. Di samping kecaman itu, Raikes juga mendapat ejekan pribadi dari orang-orang di sekelilingnya. Akan tetapi, di balik dampak negative perkembangan sekolah minggu, ada juga perkembangan positif yang perlu kita catat. Gagasan sistem pendidikan sekolah minggu ini cenderung mendorong kerja sama di antara pendeta dan jemaat yang berbeda sinode. Dengan kata lain, sekolah minggu merupakan salah satu penggerak munculnya gerakan oikumene.

                Setidaknya ada tiga sifat utama sekolah minggu pertama itu. Pertama, sekolah minggu adalah gerakan yang digerakkan dan menggerakkan kaum awam. Kedua, sistem pendidikannya di luar struktur formal gereja. Ketiga, sekolah minggu bersifat oikumenis. Jika diperhatikan dengan seksama maka ketiga sifat itu saling berkaitan satu sama lain. Ketika sekolah minggu merupakan gerakan kaum awam, maka sekolah minggu dapat lepas dari struktur formal suatu gereja atau pun juga suatu sinode gereja. Hal ini baik menurut saya karena lebih menyesuaikan sistem pengajaran sekolah minggu dengan kepentingan pendidikan dari pada suatu struktur organisasi. Sangat disayangkan, sifat-sifat itu semakin hari semakin berkembang. Ada perkembangan yang sesuai konteks dan kebutuhan masyarakat, namun ada juga yang tidak. Di Indonesia sendiri, sekolah minggu tidak lagi sebuah organisasi gereja non-formal. Sekolah minggu telah diambil alih oleh masing-masing sinode gereja, meskipun metode pengajarannya tetap sama. Menurut saya, hal ini kurang menjawab kebutuhan pendidikan yang masih sangat kurang di Indonesia. Pendidikan Kristiani yang ditanamkan di sekolah minggu juga kurang mempersiapkan anak didik untuk melanjutkan pelanyanan-Nya di dunia ini. Maksud saya di sini ialah para pengajar sekolah minggu kebanyakan hanya mendidik anak-anak untuk mengenal dan mengalami Allah secara pribadi demi perkembangan spiritualitas si anak saja tanpa membekali si anak akan maksud pelayanan Allah itu sendiri. Sebagai gereja, kita harus mampu melihat dan menjawab kebutuhan dunia di mana pun kita berada, termasuk juga pendidikan. Dengan begitu, kita telah benar-benar melaksanakan misi Allah di dunia ini.

Arsip

Pengguna baru

  • telcosalivan
  • MichaelClind
  • Davidsob
  • CurtisDox
  • addiecr16

Login Form