Prakarsa Pola Pendidikan Kristiani di Sekolah Minggu

Prakarsa Pola Pendidikan Kristiani di Sekolah Minggu

(Berdasarkan buku Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek

Pendidikan Agama Kristen, 2009)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

Cerita perkembangan Sekolah Minggu berlanjut dengan pemprakarsaan pola Pendidikan Kristiani dalam wadah Sekolah Minggu baik secara pribadi, maupun yang diprakarsai oleh sinode. Berawal dari Sidang Raya Sekolah Minggu Internasional yang diadakan di Baltimore, Amerika Serikat pada tanggal 11 Mei 1875. Jika dipandang dari sudut pandang peserta yang hadir pada saat itu, maka penggunaan kata “internasional” di sini kuranglah tepat. Hal ini dikarenakan peserta yang hadir pada Sidang Raya tersebut hanya berasal dari Amerika Serikat dan Kanada, bahkan jauh lebih banyak utusan dari Amerika Serikat dibandingkan Kanada. Namun, jika dipandang dari pola pemberian mata pelajaran yang seragam tidak hanya di Amerika Serikat dan Kanada tetapi juga di Inggris, maka penggunaan kata “internasional” itu tepat. Mata pelajaran yang seragam itu menghasilkan kesatuan kurikulum.

Sebelum adanya kesatuan kurikulum ini, polanya ialah para pengajar Sekolah Minggu sendiri yang memilih perikop dari Alkitab untuk kemudian diajarkan. Tidak sulit memang karena tentu saja perikop-perikop yang menarik dan mudah bagi mereka yang akan mereka pilih. Pola ini kemudian diubah karena dengan demikian para guru tidak menyadari bahwa mereka terlibat dalam gerakan pelayanan yang melampaui perbedaan yang tampak dalam gereja-gereja. Di samping itu, dari pihak pelajar sendiri, mereka tidak menerima pelajaran yang berkesinambungan antara Sekolah Minggu A dan Sekolah Minggu B, ketika mereka harus mengikuti keluarganya berpindah-pindah tempat. Mengingat akan hal ini, pola mata pelajara yang seragam menjadi masju pesat dalam perkembangan pelayanan Pendidikan Kristiani selama beberapa waktu.

Akan tetapi,  kelemahan kritis mulai tampak di dalamnya. Boehlke memakai kata kecaman untuk menggambarkan kelemahan dari pola mata pelajaran yang seragam tersebut. Kecaman pertama, tim penilai Sekolah Minggu melaporkan bahwa pendidikan Sekolah Minggu tidak banyak menguasai bahan Alkitabiah yang begitu luas itu. Hasilnya, anak-anak hanya diperkenalkan dengan kitab-kitab tertentu saja. Hal ini membuat mereka miskin pengetahuan Alkitab selama beberapa waktu. Kecaman kedua, isi pelajaran sendiri menutup diri terhadap penelitian Alkitab, baik PL maupun PB. Pengajaran-pengajaran yang dilakukan cenderung merongrong kekuasaan Alkitab, sehingga yang terjadi adalah Alkitab tidak bisa dengan terbuka menyampaikan pesannya. Para pengajar cenderung “memasukkan” pemikiran mereka sendiri terhadap perikop yang mereka pilih dan kemudian mereka ajarkan bagi pelajar Sekolah Minggu. Kecaman ketiga, para ahli ilmu pendidikan yang dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pelopor Pendidikan Kristiani keberatan terhadap penggunaan perikop yang sama bagi pelajar-pelajar dari segala golongan umur, tanpa memperhatikan bahwa daya tangkap, kebutuhan dan minat masing-masing berbeda satu sama lain.

Untuk mengubah haluan Sekolah Minggu, menjelang awal abad ke-20, para pendeta, teolog dan pendidik secara pribadi semakin melibatkan diri dalam urusan Asosiasi Sekolah Minggu Internasional. Mereka mendorong perkembangan dua macam kurikulum, yakni group-graded dan closely-graded.

Arsip

Pengguna baru

  • maryannyw60
  • RobertHip
  • Tomekadaurn
  • Deweynox
  • abookzLuts

Login Form