Pendidikan Agama Kristen Modern di Indonesia

Pendidikan Agama Kristen Modern di Indonesia

(Berdasarkan buku Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek

Pendidikan Agama Kristen, 2009)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

                Sebenarnya sejarah Pendidikan Kristen di Indonesia sudah dimulai sejak para pedagang dan para imam Portugis menginjakkan kaki di pulau Ternate pada tahun 1538. Mereka mendirikan sekolah di pantai-pantai Ternate sebagai sarana pemberitaan Injil. Anak bangsa diajarkan membaca, menulis berhitung dan juga diperkenalkan bahasa Portugis. Pola yang sama saat kekuatan Belanda menggantikan posisi Portugis di tanah air. Hasil dari gerakan pendidikan Injil yang dilakukan oleh Belanda ialah berdirinya Sekolah Minggu yang cenderung sama karakternya dengan Sekolah Minggu di Inggris dan Amerika pada zaman yang sama. Ciri-cirinya ialah diprakarsai oleh kaum awam, di luar struktur gereja dan bersifat injili. Pola pemikiran dan praktek Pendidikan Agama Kristen ini terus berlanjut hingga kedatangan Prof. Dr. Elmer G. Homrighausen ke Indonesia pada tahun 1955. Kehadirannya bisa dikatakan membanting stir arah perkembangan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia.

                Berawal dari Konferensi Studi Pendidikan Agama di Sukabumi pada tahun 1955 yang diselenggarakan oleh Panitia Theologi DGI (PGI). Studi yang dilaksanakan sepanjang tiga minggu ini dibawakan oleh Prof. Dr. Homrighausen yang berbicara tentang PAK, juga oleh delapan pembicara lain dari masing-masing bidang ilmu. Mereka adalah Christoph Barth, Notohamidjojo, D.C. Mulder, J.Chr. Geissler, Quismondo, Yohanes Leimena, Boland dan Devanesan. Mereka masing-masing membawa ceramah di bidang Perjanjian Lama, Kemasyarakatan, Hubungan Kristen dan Muslim, Filsafat Kaum Muda, Kehidupan seksual dan keluarga, Kewargaan Kristen yang bertanggungjawab, dan Kerja sama Oikumenis. Jadi ruang lingkup kurikulum dalam konferensi tersebut bisa dikatakan berimbang.

                Homrighausen sendiri sangat tidak sepakat dengan pola pendekatan yang berlaku dalam pendidikan agama selama ini. Baginya, pendidikan agama sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan dunia atau dengan kata lain pengalaman hidup manusia di dunia ini. “Dunia adalah tempat keyakinan dan kenyataan terlibat satu sama lain”, demikian tuturnya. Dengan dasar pemikirannya ini, Homrighausen yakin bahwa gereja dan orang-orang Kristen secara pribadi tidak dapat mengundurukan diri dari urusan duniawi. Para pekerja di bidang Pendidikan Agama Kristen wajib menjawab atau menyoroti masalah yang ditimbulkan dalam kehidupan masyarakat. Pola teologis dan pedagogis Homrighausen ini sangat cocok dengan corak gereja-gereja di Indonesia. Dampaknya sungguh dirasakan dalam perkembangan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia. Dalam ranah oikumenis PAK sendiri, pengaruhnya terlihat saat Sekolah Minggu masuk dalam struktur DGI, KOMPAK (Komisi Pendidikan Agama Kristen) melebur dalam Bagian Administratif DGI, kemudian dengan adanya hubungan DGI dan Dewan Pendidikan Kristen se-Dunia dan Perserikatan Sekolah Minggu (WCCE-SSA).

                Konferensi PAK di Sukabumi pada tahun 1955 tersebut juga mendorong penyusunan kurikulum Sekolah Minggu yang bertitiktolak dari keadaan (kebutuhan) Indonesia sendiri. Penyusunan kurikulum PAK bagi anak-anak ini dilakukan dua tahap. Pertama pada tahun 1963 (dikenal dengan Kurikulum ’63) dan kemudian tahun 1988 (Kurikulum ‘88). Tidak berhenti sampai di situ saja, PAK di Indonesia terus berkembang dengan penyusunan kurikulum Pendidikan Agama di Sekolah-sekolah, PAK di kalangan Guru Agama (PGAK), dan juga PAK bagi orang dewasa. Dengan demikian, periode Pendidikan Agama Kristen di Indonesia dimulai.

Arsip

Pengguna baru

  • jewelltm4
  • Milaniacify
  • Robertspilk
  • Kevincag
  • Davidvon

Login Form