Pendidikan Dalam Dimensi Waktu

Pendidikan Dalam Dimensi Waktu

(Berdasarkan buku Thomas H. Groome, Christian Religious Education, 2010)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

                Benarlah bahwa pendidikan sama tuanya dengan waktu dan waktu sama tuanya dengan kesadaran manusia. Oleh karenanya, banyak pendidik atau pemikir yang telah memberikan perhatian mereka dalam dunia pendidikan di sepanjang sejarah manusia. Meskipun belum ditemukan definisi yang bisa diterima secara umum terkait pendidikan, namun etimologi dari kata “pendidikan” telah memberi petunjuk penting tentang hakikat kata itu sendiri. Dalam bahasa Latin ducare yang berarti “menuntun”, “mengarahkan”, atau “memimpin” dan imbuhan e yang berarti “ke luar”. Maka berdasarkan asal kata, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”.

                Para pegiat pendidikan melihat adanya tekanan-tekanan dalam kegiatan “menuntun ke luar” ini. Asumsi tersebut dapat dilihat dalam: 1) titik berangkat dari mana, 2) proses masa kini, 3) masa depan ke arah mana. Melalui asumsi ini, secara tidak langsung mau dikatakan bahwa pendidikan memiliki tiga dimensi yakni, “telah”, “sedang direalisasikan”, dan “belum (sepenuhnya) selesai.” Groome membedakan ketiganya demi kepentingan analisis pendidikan. Dimensi “telah” menunjuk pada apa yang telah diketahui hingga secara sadar telah digunakan baik oleh pendidik maupun oleh naradidik. Dimensi “sedang direalisasikan” tentu saja menekankan bukan pada apa yang telah ada, melainkan apa yang sedang ditemukan oleh naradidik. Sementara itu dimensi “belum selesai” menunjuk ke arah mana pendidikan itu dilaksanakan. Tiga dimensi yang dapat dilihat dalam kata education - proses yang sudah berlangsung, sedang berlangsung dan gerakan ke arah masa depan yang baru - nyata di sepanjang sejarah praktik pendidikan.

                Menurut Groome, kegiatan pendidikan dalam waktu adalah kegiatan politis. Guru besar teologi dan pendidikan agama ini mengartikan kegiatan politis sebagai setiap usaha intervensi yang dilakukan secara sengaja dan sistematis dalam kehidupan manusia. Intervensi secara sadar dan sistematis ini ialah upaya untuk memberi pengaruh pada cara mereka menjalani kehidupan mereka sebagai mahluk sosial. Siapa mereka, dimana keberadaannya, dan dalam jangka waktu apa mereka ada. Berdasarkan pemikiran itu, maka pendidikan sebagai kegiatan politis dalam waktu, harus memberdayakan manusia untuk secara kritis memanfaatkan masa lampau agar mereka dapat bekerja secara kreatif melewati masa kini demi menuju masa depan. Dengan kata lain, pendidikan bertujuan secara terus-menerus mendorong manusia untuk melakukan pencapaian-pencapaian dalam sepanjang waktu kehidupannya. Pencapaian-pencapaian ini (pertama-tama) bersifat transenden.

                Pemikiran Groome ini akhirnya membuatnya tiba pada kesimpulan jika memang seluruh pendidikan bersifat transenden, maka sejatinya seluruh pendidikan yang baik dapat disebut bersifat keagamaan. Seluruh disiplin ilmu pengetahuan utama didasarkan pada iman karena semuanya dikaitkan dengan ekspresi manusia dalam upaya pencapaian-pencapaiannya. Meskipun gagasan ini sangat berpotensi mengundang bahaya imperialisme religius, namun bagaimanapun juga gagasan ini pada dasarnya benar. Pendidikan agama tidak setara dengan pendidikan matematika atau ilmu pengetahuan sosial ataupun kesenian dan sebagainya. Ada kekhususan dalam pendidikan agama yang menyebabkan ia memiliki fungsi khusus dalam hubungannya dengan pendidikan umum. Jika pendidikan umum merupakan “pintu ke luar” maka pendidikan agama adalah “jalan menuju pintu ke luar.” Pendidikan agama menuntun orang-orang untuk menyadari apa yang telah mereka temukan, berhubungan dengan apa yang telah ditemukan itu, dan mengekspresikan hubungan itu dalam hidupnya.

Arsip

Pengguna baru

  • CharlesNem
  • noracx18
  • KennethAdhet
  • maryannyw60
  • RobertHip

Login Form