Keluarga Hidup di Tengah Perubahan

Keluarga Hidup di Tengah Perubahan

(Berdasarkan buku Dialog dan Edukasi karya N.K. Atmadja Hadinoto, 2012)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

                Menurut pengertian sosiologi, “keluarga” mencakup dua wilayah pengertian. “Keluarga batih” (nuclear family) yang terdiri dari bapak ibu dan anak, dapat juga dalam arti “keluarga besar” (extended family), dimana bukan hanya keluarga batih tetapi juga anggota keluarga dalam garis vertical (kakek, nenek, ayah, ibu, cucu), maupun garis horizontal (kakak, adik, ipar keponakan, sepupu).  Dalam perkembangan di dunia Barat, muncul beberapa pengertian baru mengenai keluarga. Pola beberapa individu (ada kaitan keluarga ataupun tidak) yang tinggal dalam satu rumah, pola keluarga dengan satu orangtua saja (single parent family), pola keluarga dengan orang tua dari satu jenis kelamin saja (pasangan homo atau lesbi), dan pola wanita-pria hidup bersama tanpa ikatan perkawinan. Pola-pola keluarga yang muncul di dunia Barat ini mulai menggejala di kota-kota besar di dunia Timur, lebih khusus di Indonesia. Walaupun demikian, pola keluarga tradisional-konvensional masih sangat kuat pengaruhnya di Indonesia.

                Selain gejala-gejala dunia modern yang mempengaruhi pola keluarga di Indonesia, ada hal yang lebih besar lagi pengaruhnya, yakni pluralitas ideologi, agama dan kultur. Manusia dipaksa untuk mengambil sikap terhadap ideologi, agama dan kultur yang lain di sekitarnya. Demikian pun dengan keluarga, sebagai lembaga manusia yang paling kecil di tengah masyarakat, mau tak mau harus memberi respons terhadap pluralisme itu. Pluralisme di Indonesia tidak hanya semata-mata tertuang dalam pokok-pokok ideologi bangsa, tetapi juga dalam pengalaman konkret berbangsa dan bernegara. Pluralisme dialami sehari-hari oleh orang Indonesia secara konkret dan dari dekat. Misalnya saja, orang yang berlainan agama dapat menjadi tetangga, teman sekolah, rekan kerja, bahkan juga pasangan hidup atau anak sendiri yang memutuskan memeluk agama yang berbeda dari yang dianut oleh orang tuanya. Manusia yang terikat dalam keluarga harus berbagi dunia mereka dengan orang-orang yang berideologi, beragama dan berkultur yang berbeda dari mereka.

                Fenomena keluarga yang berada dalam perubahan sosial yang pesat ini kemudian menimbulkan pertanyaan “cukupkah manusia bersikap rukun tanpa menyinggung perasaan satu dengan yang lain atau perlukah mereka bersikap lebih positif dalam relasi mereka di tengah-tengah perbedaan yang ada?” Pertanyaan ini sekiranya dapat dijawab dengan melihat pola pendidikan Agama Kristen di dalam keluarga. Dalam bab awal buku ini, penulis menemukan beberapa masalah yang dihadapi keluarga dalam Pendidikan Agama Kristen. Beberapa di antaranya yakni masih kurangnya kesadaran kritis orang tua terhadap lingkungan yang sedang berubah, dan juga mitos tentang orang tua yang masih sangat kuat dalam tradisi keluarga di Indonesia. Mitos yang pertama yakni “norma penghormatan terhadap orang tua”. Norma ini menanamkan bahwa orang tua adalah orang yang bijaksana, tahu yang baik dan buruk, dan tidak boleh dibantah. Norma ini tidak disertai dengan sikap kritis terbuka, sehingga dengan menjadi orang tua maka ia tidak dapat bersalah di hadapan anak. Mitos kedua ialah masih banyak orang tua yang menganggap bahwa tugas mereka dalam mendidik anak adalah membawa anak ke gereja untuk dibaptiskan dan dibina oleh pengajar sekolah minggu. Mengenai  apa tugas dan peranan selanjutnya masih kurang dilakoni oleh orang tua. Oleh sebab problema di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa masih banyak orang tua yang belum mencapai kesadaran akan pentingnya konteks yang lebih luas dalam proses edukasi anak. Orang tua lebih sering merasa diri sebagai “korban” dari perubahan-perubahan sosial, daripada bertindak sebagai agen-agen perubahan tersebut. 

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form