Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat

Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat[1]

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

“No problem can be solved from the same level of consciousness that created it. We must learn to see the world anew.” Sepertinya kutipan bijak dari Albert Einstein yang mengawali tulisannya inilah yang menggugah J.B. Banawiratma untuk memperkenalkan pendekatan Appreciative Inquiry dalam usaha pengembangan jemaat dan teologi praktis. Pendekatan Appreciative Inquiry ini sebenarnya berawal dari seorang mahasiswa doktoral di Case Western Reserve University yang sedang mengerjakan proyek perubahan organisasi bersama dengan “Cleveland Clinic” di Ohio. Dalam mengerjakan proyek ini, mahasiswa tersebut bersama mentornya memfokuskan pengamatannya pada apa saja yang menghidupkan, memberdayakan serta mengoptimalkan kinerja klinik. Bukan lagi pada akar masalah dan menganalisis kesalahan. Mereka membiarkan apa yang disebut kekurangan dan memusatkan perhatian secara penuh pada analisis mengenai akar keberhasilan. Dari sinilah mereka menemukan hal-hal yang kemudian berkembang menjadi AI.

Appreciative Inquiry berakar dari pemahaman ini. “To appreciate” berarti menghargai dan “to inquire” berarti menyelidiki atau berusaha untuk menemukan. Dengan demikian, AI merupakan usaha untuk menemukan dan menghargai hal-hal positif yang ada pada kelompok atau (dalam hal ini) dalam jemaat. Pendekatan AI ini merupakan pergeseran dari pendekatan problem solving yang selama ini menjadi kerangka berpikir umum. Jelaslah bahwa pangkal tolaknya bukanlah masalah, melainkan hal-hal positif yang sudah ada. Jemaat yang terjerat pada beban masa lampau akan berhenti berkembang. Sebaliknya, jemaat yang berpikir positif serta mempunyai keberanian dan pengharapan, akan merasakan energi yang cukup bahkan lebih besar untuk bergerak ke depan.

Dalam usaha gerak maju yang berpangkal pada inti perubahan yang positif ini terdapat tahapan-tahapan yang oleh penulis disebut 4D; discovery, dream, design, dan destiny. Discovery merupakan tahap mengindentifikasi dan mengapresiasi apa yang terbaik yang sudah ada, apa yang menghidupkan dan menggerakkan. Metode yang digunakan biasanya melalui sharing dan dialog. Tahapan ini mempertanyakan ”what gives life?Dream, membayangkan keadaan baru yang mungkin terjadi sesuai dengan harapan-harapan terdalam dan aspiras-aspirasi tertinggi. Untuk melaksanakannya biasanya tahapan ini dimulai dengan pertanyaan ”what might be?Design, tahapan mengonstruksikan arsitektur organisasional untuk mencapai yang idela sesuai dengan yang diimpikan. Tahapan ini menghubungkan apa yang sudah ditemukan sebagai modal positif dengan apa yang diimpikan. ”How can it be?” membantu untuk mengeksplor tahapan ini. Tahap terakhir, destiny. Semua partisipan membangun masa depan, menciptakan apa yang seharusnya, memberdayakan, belajar, menyesuaikan, berimprovisasi dan membangun kapasitas. Pertanyaanya adalah ”what will be?

Pengertian mengenai AI akan menjadi lebih jelas jika dibandingkan dengan pendekatan lain seperti problem solving approach. Asumsi umum keduanya berpangkal pada dua hal yang berbeda. AI berpangkal pada kekuatan sementara PS pada kelemahan yang ada. Asumsi ini kemudian mempengaruhi prinsip dan kinerja komunitas. Prinsip PS mengarah pada gambaran ”komunitas sebagai mesin” yang bergerak bersama-sama dalam waktu yang bersamaan, sementara AI lebih menekankan pemberdayaan komunitas yang bergerak secara kreatif berdasarkan hal-hal yang positif yang dimiliki.  Dengan demikian, kedua pendekatan ini memiliki asumsi teologis yang berbeda pula. Jika PS menaruh perhatian pada situasi keberdosaan (original sin) dan kelemahan manusia secara individual atau kolektif, maka AI fokus kepada manusia sebagai imago Dei yang merupakan anugerah asal (original blessing) bagi manusia. Jemaat dalam paradigma PS adalah sebuah komunitas bermasalah yang harus diselesaikan. Sementara AI melihat jemaat sebagai pusat kreatifitas manusia yang perlu terus digerakkan. Inilah alasan mengapa pendekatan AI sangat tepat untuk mengusahakan pengembangan jemaat.

 


[1] Berdasarkan buku Pemberdayaan Diri Jemaat dan Teologi Praktis Melalui Appreciative Inquiry (AI) oleh J.B. Banawiratma

Arsip

Pengguna baru

  • allesococcarp
  • roseannaz2
  • Craigcer
  • Laplatanuth
  • JosephHek

Login Form