Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana (lanjutan 2)

Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana (lanjutan 2)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

2. Kesetiakawanan

Gereja merupakan rumah dari setiap orang dari bermacam-macam golongan fungsional, umur, selera, watak, kekayaan, pangkat dan sebagainya. Oleh sebab itu, warga jemaat harus dibina sedemikian rupa sehingga sungguh-sungguh menyadari bahwa tujuan Gereja ialah untuk mempersatukan segala macam orang dari segala macam kedudukan golongan dan bangsa. Agar mereka benar-benar merasa dan hidup sebagai satu keluarga besar, tanpa pemisahan ras, kedudukan, pangkat dan sebagainya. Romo Mangunwijaya menggarisbawahi justru inilah tujuan Gereja yakni untuk merealisasikan kenyataan bahwa Tuhan orang kaya atau orang miskin, jenderal atau tani kecil, nenek atau anak-anak, sederajat.

Seperti halnya di dalam keluarga, semua anak dengan watak, selera serta kedudukan yang berbeda-beda dirangkul dan dipersatukan, begitulah Gereja.   Kesatuan hubungan itu bukan seperti para pekerja dalam perusahaan, melainkan hubungan keluarga. Di sinilah letak solidaritas dan kesetiakawanan. Kita tidak bisa bergerak maju dengan meninggalkan banyak warga Gereja lain yang tertinggal di belakang. Seorang bapak pun tidak akan berjalan terlalu cepat bila ia tahu bahwa istrinya atau anaknya punya langkah-langkah yang pendek. Dalam hal ini kesetiakawanan dan solidaritaslah yang mengajak sang bapak untuk memperlambat langkahnya, sedangkan sang istri mempercepat langkahnya, bila perlu sia anak kecil digendong. Hal ini tidak berarti bahwa semua umat perlu seragam dalam segala hal, melainkan dalam persatuan dan kebulatan tekad bersama, maka selera dan kebijaksanaan pribadi wajib dikorbankan dalam suasana hati yang setiakawan, solider.

3. Kewibawaan yang dicintai

Penambahan kata “yang dicintai” dalam hal ini mau menunjukkan kualitas kewibawaan yang bukan sejenis kewibawaan pemerintahan, kepolisian, panglima tentara atau boss di kantor. Lagi-lagi seperti sebuah keluarga, kewibawaan ayah atau ibu di mata anak-anak haruslah kewibawaan yang dicintai dan disayangi, bukan yang ditakuti. Demikianlah juga seorang gembala jemaat. Tentunya memang ia punya kekurangan di samping kelebihan yang dimilikinya. Namun, sekali ia dipilih oleh warga jemaat, maka seluruh warga jemaat harus dengan tulus menjunjung tinggi kewibawaannya dan mencintainya, kendatipun ia tetap punya kekurangan. Di pihak lain, seorang gembala yang telah dipilih oleh umat harus memiliki kesadaran dan tekad bahwa tugas pertama dan terutamanya ialah mencintai jemaatnya, bukan memerintah atau mengatur. Maka dalam mencintai itu, dengan sendirinya ia akan berwibawa.

Kewibawaan tidak perlu diusahakan, ia akan datang dengan sendirinya sejauh kita belajar sederhana, biasa dan wajar, serta menganggap diri selaku pelayan dan abdi belaka. Kalau disuruh bekerja di belakang, senanglah. Kalau disuruh memimpin di muka, baiklah. Sebab gembala umat tahu kapan ia harus “tut wuri” (ikut di belakang), kapan “ing madyo” (di tengah), dan kapan “ing ngarso” (di muka). Kewibawaan pemimpin jemaat selalu berjalan sejajar dengan usaha untuk “turun ke bawah”. Bukan untuk “cari muka”, atau taktik belakan, melainkan suatu panggilan cinta kasih dan kesetiakawanan. Mangunwijaya menegaskan, turba bukanlah “siasat” atau “cari popularitas”, melainkan sesuatu kewajiban setiap kewibawaan dalam Gereja.

Semangat “turun ke bawah” ini dihayati dalam pemaknaan yang sama dengan “tepo seliro”. Bagi Mangunwijaya, “tepo seliro” yang sejati ialah yang membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Pemimpin umat juga harus terjun langsung ke dalam situasi yang salah tersebut dengan tujuan untuk mencari perbaikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa kewibawaan yang dicintai tidak berarti asal menuruti saja kehendak orang lain, melainkan cinta yang diletakkan pada sendi keadilan dan kebenaran. Artinya, cinta yang dibagikan itu harus lebih praktis. Lebih belajar menghargai dan menjalankan keadilan dan kebenaran, ketimbang bersayang-sayangan yang hanya menikmatkan perasaan diri belaka. Sebab umumnya, manusia kuat dalam bersayang-sayangan, tetapi sangat lemah dalam menghormati kebenaran dan keadilan.

Bersambung 

Arsip

Pengguna baru

  • CharlesNem
  • noracx18
  • KennethAdhet
  • maryannyw60
  • RobertHip

Login Form