Teologi Keluarga 2

Judul                                       : Teologi Keluarga

Penulis                                   : Maurice Eminyan, SJ

Tahun/ Kota/ Penerbit        : 2001, Yogyakarta: PT Kanisius

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

Sebagaimana kita mengenal tiga pribadi membentuk Allah Tritunggal, satu kesatuan kodrat ilahi, satu Keluarga Ilahi, maka keluarga manusiapun memiliki unsur-unsur yang mencerminkan Trinitas Kudus. [Mengenai Keluarga Ilahi ini, pada Efesus 3:15 ada kalimat  ”dari padaNya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.” Kata ’turunan’ berasal dari terjemahan Vulgata paternitas, sementara dalam bahasa Yunaninya yang dipakai adalah patria, yang diartikan ’keluarga’.] Tidak jadi soal jenis keluarga apa yang sedang kita pikirkan, paling sedikit ada dua pribadi di dalamnya, dan mereka dipersatukan oleh ikatan cinta yang total, setia, dan tak dapat ditarik kembali, yang menghasilkan kesatuan yang sesempurna mungkin yang ada di dunia ini antara dua pribadi yang berbeda jenis kelamin dan kepribadiannya. Walaupun ada keluarga yang karena satu dan lain hal tidak mempunyai anak, ekspresi seksual yang sempurna dari cinta kasih pasangan suami-istri tersebut pada hakikatnya selalu membuka jalan terhadap penerusan kehidupan baru. Dalam panggilan Allah agar manusia beranak-cucu dan bertambah banyak ini, Allah menyertakan pria dan wanita sebagai prokreator, ”pencipta bersama Allah”. Pria dan wanita menjadi rekan sekerja Allah melalui tindakan cinta mereka.

Kebutuhan manusia mengkomunikasikan diri dengan orang lain memenuhi kepenuhannya dalam membentuk keluarga, dan itu adalah suatu panggilan bawaan sejak lahir yang sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Ia tidak dapat menjadi dirinya sendiri tanpa dengan memberikan dirinya sendiri. Jika Allah adalah satu keluarga, maka, untuk menuju kepenuhan hidupnya manusia harus menjadi suatu keluarga pula. Ia harus membiarkan dirinya dibentuk atau dibuat menjadi satu melalui kekuatan cinta sejati yang mengikat. Seorang manusia yang terisolir, yang sama sekali tidak mencari kesatuan keluarga, sebenarnya tidak mencerminkan Trinitas, keluarga ilahi.

Sembari membentuk suatu komunitas melalui perkawinan, suami dan istri meneruskan anugerah kehidupan kepada anak melalui prokreasi dalam hubungan cinta kasih timbal-balik yang penuh. Aktifitas seksual selalu ditempatkan dalam konteks cinta kasih sejati antara suami dan istri. Jadi adalah juga benar bahwa manifestasi cinta kasih suami istri bersifat seksual sebab ditandai dengan ciri-ciri seksual dari pribadi yang mencinta. Setiap pria mencintai sebagai seorang pria dan setiap wanita mencintai sebagai wanita. Hubungan seksual yang dilakukan suami dan istri, di samping selalu membuka jalan terhadap kehidupan baru karena dituntut dari kodrat alamiahnya, pada dasarnya memberi akibat memperkuat ikatan perkawinan di antara mereka dan menghasilkan kekayaan atau buah-buah spiritual dan psikologis.

Arsip

Pengguna baru

  • telcosalivan
  • MichaelClind
  • Davidsob
  • CurtisDox
  • addiecr16

Login Form