Pengelolaan Umat Berdasarkan Pancapramana (lanjutan 3)

Pengelolaan Umat berdasarkan Pancapramana[1]

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

       4. Koreksi, Penyehatan Kembali, Peremajaan

            Kelangsungan hidup setiap organisme di dunia sangat ditentukan oleh proses peremajaan dirinya. Tubuh yang sehat butuh berkeringat secara wajar dan kotoran badan harus dikeluarkan secara teratur. Sebagaimana tubuh, maka vitalitas kehidupan berjemaat dapat diukur dari sejauh mana proses peremajaan diri yang dilakukan. Proses peremajaan diri itu pertama-tama berbentuk koreksi, kritik, pembetulan, pencatatan kesalahan, usaha perbaikan dan lain sebagainya. Oleh karena itu sistem koreksi, penyehatan dan peremajaan diri ini harus lepas dari soal pribadi. Dengan kata lain, sistemnya harus diciptakan atas persetujuan bersama, bukan sebagai reka-reka perorangan melainkan suatu keharusan menyangkut kepentingan bersama.

            Sebagai cara kerja yang disepakati bersama, maka proses saling koreksi/ kritik meremajakan diri penting dilakukan pada waktu-waktu yang teratur (periodis). Misalnya, setiap dua atau tiga bulan sekali ditentukan bahwa selalu ada rapat untuk membahas hal-hal khusus/ kekurangan. Dari pertemuan yang dilakukan secara periodis itu diharapkan ada laporan perkembangan (progres) yang teratur dari yang lampau.

            Selain itu, penting juga untuk disepakati bersama bahwa setiap tahun (atau periode tertentu) seluruh kepengurusan dari semua organisasi, perkumpulan khususnya persekutuan jemaat, harus diletakkan supaya ada pembaharuan dalam kepemimpinan. Mangunwijaya menegaskan bahwa pemilihan harus dilaksanakan secara rahasia. Menurutnya, pemilihan yang dilaksanakan secara aklamasi atau lisan tidak baik. Lebih lagi, mekanisme itu dapat menjadi alat untuk mendidik para warga jemaat memiliki pendirian secara pribadi dan tidak hanya ikut-ikutan saja. Ia menambahkan bahwa perlu juga dibatasi berapa kali periode seorang dapat memangku jabatannya secara berturut-turut.

            Soal peremajaan diri merupakan salah satu tugas pokok pimpinan jemaat, sekaligus sebagai indikator penting sampai di mana jemaat terjamin kelangsungan hidupnya. Oleh karenanya, pembinaan calon-calon pemimpin sebagai usaha regenerasi adalah tugas utama setiap pengurus/ pemimpin jemaat. Pimpinan yang baik bukanlah yang membusungkan dada, “tanpa saya semua macet”, melainkan yang dengan tenteram menyaksikan, “tanpa saya semua berjalan lancar karena setiap warga sudah tahu tugas dan tempat mereka berkarya masing-masing.”

             5. Daya Pengorbanan dan Memanggul Salib

Memang tidak semua malapetaka dan sengsara dapat disebut “salib”. Kegagalan atau penderitaan mungkin terjadi akibat kesalahan mereka sendiri. Akan tetapi, tetaplah dalam pengelolaan jemaat, kita jangan terdorong oleh motivasi “cari untung”, “cari nama”, atau “cari jodoh” sehingga memburu dan mengandalkan prestasi tanpa mengindahkan inti dan maksud paling dalam dari kehendak Tuhan. Oleh karena itu, indikator yang paling penting dan menentukan untuk mengetahui kualitas umat ialah ketahanan dan kemampuan mereka untuk berkorban, menanggung penderitaan dan semangat yang mereka tampakkan dalam menghadapi penderitaan.

Penderitaan bisa bersifat jasmani yakni kemiskinan, sakit, cacat atau mungkin keadaan lanjut usia yang serba lemah. Bisa juga berarti rohani berarti kejiwaan ataupun perasaan seperti nenek tua yang kesepian, yang merasa sudah tidak terpakai lagi, kaum yang selalu dianaktirikan, karena memang tidak cerdas, lambat berpikir lalu minder, penderita-penderita batin karena kecewa, broken-home, dan kaum muda yang cemas melihat masa depan. Gereja adalah instansi yang dari abad ke abad memperhatikan para penderita ini. Sehubungan dengan itu, maka pimpinan jemaat semestinya selalu mencatat sampai dimana derajat ketahanan jemaat dalam soal berkorban. Memang benar bahwa sebuah anugerah bila warga jemaat kita ahli dalam berbagai keterampilan, bersemangat mencapai keberhasilan dan bangga dengan berbagai prestasi. Namun belumlah bisa diandalkan sebagai ukuran final ketahanan umat dalam beriman, berharap dan berkasih-kasihan secara utuh.


[1] Berdasarkan buku Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana oleh Y.B. Mangunwijaya (2000, Yogyakarta: PT Kanisius)

Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana (lanjutan 2)

Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana (lanjutan 2)

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

2. Kesetiakawanan

Gereja merupakan rumah dari setiap orang dari bermacam-macam golongan fungsional, umur, selera, watak, kekayaan, pangkat dan sebagainya. Oleh sebab itu, warga jemaat harus dibina sedemikian rupa sehingga sungguh-sungguh menyadari bahwa tujuan Gereja ialah untuk mempersatukan segala macam orang dari segala macam kedudukan golongan dan bangsa. Agar mereka benar-benar merasa dan hidup sebagai satu keluarga besar, tanpa pemisahan ras, kedudukan, pangkat dan sebagainya. Romo Mangunwijaya menggarisbawahi justru inilah tujuan Gereja yakni untuk merealisasikan kenyataan bahwa Tuhan orang kaya atau orang miskin, jenderal atau tani kecil, nenek atau anak-anak, sederajat.

Seperti halnya di dalam keluarga, semua anak dengan watak, selera serta kedudukan yang berbeda-beda dirangkul dan dipersatukan, begitulah Gereja.   Kesatuan hubungan itu bukan seperti para pekerja dalam perusahaan, melainkan hubungan keluarga. Di sinilah letak solidaritas dan kesetiakawanan. Kita tidak bisa bergerak maju dengan meninggalkan banyak warga Gereja lain yang tertinggal di belakang. Seorang bapak pun tidak akan berjalan terlalu cepat bila ia tahu bahwa istrinya atau anaknya punya langkah-langkah yang pendek. Dalam hal ini kesetiakawanan dan solidaritaslah yang mengajak sang bapak untuk memperlambat langkahnya, sedangkan sang istri mempercepat langkahnya, bila perlu sia anak kecil digendong. Hal ini tidak berarti bahwa semua umat perlu seragam dalam segala hal, melainkan dalam persatuan dan kebulatan tekad bersama, maka selera dan kebijaksanaan pribadi wajib dikorbankan dalam suasana hati yang setiakawan, solider.

3. Kewibawaan yang dicintai

Penambahan kata “yang dicintai” dalam hal ini mau menunjukkan kualitas kewibawaan yang bukan sejenis kewibawaan pemerintahan, kepolisian, panglima tentara atau boss di kantor. Lagi-lagi seperti sebuah keluarga, kewibawaan ayah atau ibu di mata anak-anak haruslah kewibawaan yang dicintai dan disayangi, bukan yang ditakuti. Demikianlah juga seorang gembala jemaat. Tentunya memang ia punya kekurangan di samping kelebihan yang dimilikinya. Namun, sekali ia dipilih oleh warga jemaat, maka seluruh warga jemaat harus dengan tulus menjunjung tinggi kewibawaannya dan mencintainya, kendatipun ia tetap punya kekurangan. Di pihak lain, seorang gembala yang telah dipilih oleh umat harus memiliki kesadaran dan tekad bahwa tugas pertama dan terutamanya ialah mencintai jemaatnya, bukan memerintah atau mengatur. Maka dalam mencintai itu, dengan sendirinya ia akan berwibawa.

Kewibawaan tidak perlu diusahakan, ia akan datang dengan sendirinya sejauh kita belajar sederhana, biasa dan wajar, serta menganggap diri selaku pelayan dan abdi belaka. Kalau disuruh bekerja di belakang, senanglah. Kalau disuruh memimpin di muka, baiklah. Sebab gembala umat tahu kapan ia harus “tut wuri” (ikut di belakang), kapan “ing madyo” (di tengah), dan kapan “ing ngarso” (di muka). Kewibawaan pemimpin jemaat selalu berjalan sejajar dengan usaha untuk “turun ke bawah”. Bukan untuk “cari muka”, atau taktik belakan, melainkan suatu panggilan cinta kasih dan kesetiakawanan. Mangunwijaya menegaskan, turba bukanlah “siasat” atau “cari popularitas”, melainkan sesuatu kewajiban setiap kewibawaan dalam Gereja.

Semangat “turun ke bawah” ini dihayati dalam pemaknaan yang sama dengan “tepo seliro”. Bagi Mangunwijaya, “tepo seliro” yang sejati ialah yang membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Pemimpin umat juga harus terjun langsung ke dalam situasi yang salah tersebut dengan tujuan untuk mencari perbaikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa kewibawaan yang dicintai tidak berarti asal menuruti saja kehendak orang lain, melainkan cinta yang diletakkan pada sendi keadilan dan kebenaran. Artinya, cinta yang dibagikan itu harus lebih praktis. Lebih belajar menghargai dan menjalankan keadilan dan kebenaran, ketimbang bersayang-sayangan yang hanya menikmatkan perasaan diri belaka. Sebab umumnya, manusia kuat dalam bersayang-sayangan, tetapi sangat lemah dalam menghormati kebenaran dan keadilan.

Bersambung 

Arsip

Pengguna baru

  • janniekh16
  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal

Login Form