Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana

Menghidupkan Komunitas Basis Kristiani Berdasarkan Pancapramana

Oleh Vikaris Gloria Nathalia Kansil

Kepustakaan lain yang berupaya menjawab kebutuhan para gembala dalam usaha pemberdayaan diri jemaat ialah buku yang ditulis oleh Y.B. Mangunwijaya ini. Sekalipun undur beberapa periode ke belakang, namun baik Banawiratma maupun Mangunwijaya, menaruh keprihatinan yang sama terhadap upaya pemberdayaan jemaat dan mencoba menjawabnya sesuai dengan pengamatan masing-masing. Buku yang ditulis tahun 80-an ini tersusun berdasarkan diskusi-diskusi formal-informal antar pastor Keuskupan Agung Semarang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika nuansa Katolik terdapat dalam sebagian besar materi di buku ini.  

                Pertanyaan utama dalam buku ini ialah bagaimana kita seharusnya mengelola umat? Pertama-tama, Mangunwijaya sebagai penulis sadar betul bahwa pengelolaan jemaat (Gereja) sangat berbeda dengan cara kelola organisasi massa, partai politik,  institusi pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya. Perbedaan cara kelola ini didasarkan pada pemahaman mengenai siapakah yang disebut sebagai jemaat (Gereja). Seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada orang percaya di kota Efesus, jemaat ialah kawan sewarga orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Ef.2:19). Jika jemaat adalah kawan sewarga dan anggota keluarga Allah, maka jelaslah bahwa semangat dan ciri pengelolaan jemaat ialah persahabatan dan kekeluargaan. Hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang utuh baik, dan bertumbuh segar, dapat tampak dan dapat diukur mutunya.

                Tentu saja kedalaman iman, harapan dan cinta kasih jemaat tidak dapat dinilai dengan ukuran manusiawi belaka. Hanya Tuhan yang mampu dan berhak menilai sampai mana umat kita setia pada panggilan-Nya. Namun, sekalipun kehidupan Gereja bersifat rohani, tidak dapat diukur dengan materi lahiriah saja, akan tetapi iman sejatinya kentara dari perbuatan nyata. Oleh sebab itulah, para pelayan jemaat perlu memiliki beberapa tolok ukur untuk menolong membaca kompas kebijaksanaan di dalam jemaat, sekaligus menjadi petunjuk bahkan batu uji keadaan juga untuk mempermudah menentukan langkah-langkah kebijaksanaan ke depan juga.

Jika Banawiratma mengusung pendekatan Appreciative Inquiry, kini pendahulunya menggunakan pendekatan lain yang disebutnya, pancapramana. Pancapramana ini merupakan tolok ukur untuk menghidupkan komunitas basis Kristiani. Keprihatinan utama penulis ialah pemberdayaan kelompok-kelompok kecil. Baginya, kelompok kecil itu merupakan komunitas dasar (basis) untuk keseluruhan komunitas. Pancapramana adalah lima hal yang paling vital, yang biasanya dapat kita baca dari beberapa peristiwa atau sikap umat yang spontan namun justru menggambarkan keadaan jemaat yang sesungguhnya.

  1. Hubungan/ Komunikasi

Mangunwijaya menggunakan gambaran tubuh manusia untuk menjelaskan hal pertama dari pancapramana, yakni hubungan. Tubuh manusia terdiri dari sekian juta unsur dan serat yang terjaring serta terhubung satu sama lain. Mayat adalah tubuh yang unsur-unsurnya masih lengkap, tetapi sudah kehilangan hubungan antar unsur-unsurnya. Masing-masing terurai sendiri hingga mati.

Seringkali perkara kemacetan, salah paham, curiga-mencurigai dan sebagainya datang dari kurangnya komunikasi. Padahal ada begitu banyak cara yang bisa dipakai untuk membangun hubungan/ komunikasi: rapat, pengumuman, surat-menyurat, lembaran berita, percakapan glenak-glenik, perlombaan anak-anak, ziarah bersama, kursus ibu-ibu, seni drama, olahraga dan sebagainya. Dengan kata lain, hubungan/ komunikasi dapat ditempuh baik dengan jalan resmi maupun jalan tidak resmi (informal). Kedua jalur ini memiliki kewibawaan masing-masing. Komunikasi tidak resmi, meskipun ia tidak mengikat secara resmi, namun seringkali perbincangan yang lebih santai, lebih intim, dari hati ke hati, terjadi di jalur ini. Karenanya, hal-hal ini perlu diperhatikan dan jangan dicampuradukkan.

Di samping itu, masalah dalam hubungan/ komunikasi bukan terjadi hanya karena tidak terbangun hubungan, melainkan karena hubungan/ komunikasi yang sudah dibangun dan diusahakan itu tidak mencapai sasaran atau tujuan. Misalnya, rapat hanya dihadiri oleh beberapa orang sehingga tidak terjalin komunikasi yang dimaksudkan. Lebih dari itu, menurut Mangunwijaya, amatlah penting untuk menciptakan suasana kerja yang baik terlebih dahulu sehingga mendorong tumbuhnya iklim saling percaya dan membangun.

Bersambung

Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (3)

Pendekatan Appreciative Inquiry dalam Usaha Pengembangan Jemaat (3)[1]

Pendekatan Appreciative Inquiry yang memberdayakan dan mengembangkan jemaat terlihat dalam teologi keberanian yang disuguhkan oleh Paul Tillich (1957) dan teologi pengharapan oleh Jurgen Moltmann (1964). Selanjutnya, kita akan membahas lebih dalam mengenai teologi yang positif dan menggerakkan, yakni visi teologis yang oleh Mathew Fox (1983) disebut sebagai spiritualitas penciptaaan (creation-centered spirituality). Visinya ini ditempatkan dalam usaha pergeseran spiritualitas dari paradigm spiritualitas dosa/ penebusan (fall/ redemption spirituality) ke spiritualitas yang berpusat pada penciptaan. Dalam bukunya Original Blessing, Fox menggambarkan 58 butir perbedaan antara spiritualitas dosa dan spiritualitas penciptaan. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Fall/ Redemption Spirituality Creation-centered Spirituality
Beriman adalah soal memikirkan dengan penerimaan Beriman adalah mengandalkan
Gairah adalah kutukan karena itu harus dikendalikan Gairah adalah anugerah karena itu harus dirayakan
Penderitaan: upah dosa Penderitaan: sakit pedihnya kelahiran dari alam semesta
Menekankan dosa asali Menekankan berkah asali
Kerendahan hati adalah ”memandang rendah dirimu” Orang rendah hati bersahabat dengan kedebuannya
Manusia sebagai pendosa Manusia sebagai pribadi yang rajawi yang dapat memilih untuk menciptakan atau menghancurkan
Bertobatlah! Mentransformasikan dan ditransformasikan.

Fox menilai bahwa selama berabad-abad Gereja Katolik maupun Protestan telah menginventasikan banyak energinya dalam menempuh jalan fall/redemption. Sudah selayaknya sekarang dipilih spiritualitas alternatif, yakni creationspirituality, yakni jalan yang paling kuno, yang paling menyembuhkan, jalan dalam Alkitab sendiri.

          Jalan pemberdayaan jemaat dan teologi bukanlah sekedar metode ini atau itu, melainkan spiritualitas Kristiani yang dapat dipertanggungjawabkan. Spiritualitas merupakan pengalaman manusiawi dan praktik hidup konkret yang dijalani, bukan suatu pengertian intelektual yang dimiliki, tetapi tidak dihidupi dalam praktik. Spiritualitas Kristiani mempunyai ciri Trinitarian, yakni cara bertindak yang penuh kesadaran secara personal dan komunal untuk mengikuti dorongan Roh Kudus, menempuh jalan yang dijalani Yesus, demi gerakan Kerajaan Allah dalam segala kenyataan hidup.

          Spiritualitas alternatif yang disebut Fox sebagai creation-centered spirituality ini rasanya tepat kalau disebut spiritualitas Trinitarian kosmis. Sifat kosmis didasari oleh karena Roh Allah hadir dan bekerja dalam seluruh kosmos (ciptaan). Pemahaman ini sejalan dengan yang Maitimoe katakan tentang Roh Kudus. Roh Kudus adalah sumber hidup baru bagi tiap orang Kristen (jemaat). Tidak ada pekabaran Injil, tidak ada pertobatan, tidak ada pelayanan, tidak ada pertumbuhan jemaat terlepas dari karya Roh Kudus. Roh Kuduslah dinamika ilahi yang menghasilkan kualitas maupun kuantitas dalam pembinaan jemaat misioner.[2]

 


[1] Berdasarkan buku Pemberdayaan Diri Jemaat dan Teologi Praktis Melalui Appreciative Inquiry (AI) oleh J.B. Banawiratma

[2] D.R. Maitimoe, Membina Jemaat Misioner, (1984, Jakarta: BPK Gunung Mulia), hlm. 17.

Arsip

Pengguna baru

  • janniekh16
  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal

Login Form