Gandum dan Ilalang

Dalam Perjanjian Lama kata Ibrani "malak" yang sering diterjemahkan sebagai "malaikat" kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai "pembawa pesan" (messenger). Sama juga halnya dalam Perjanjian Baru, kata Yunani "aggelos" yang sering diterjemahkan sebagai "malaikat" kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai "pembawa pesan". Ketika kita memperhatikan dengan teliti ayat-ayat yang menggunakan ungkapan ini, kita menemukan bahwa Tuhan bisa menggunakan ungkapan ini untuk menunjuk kepada diri-Nya sendiri, bisa menunjuk kepada malaikat dan bisa juga menunjuk kepada manusia yang mempunyai pesan untuk dikabarkan. Kita harus memperhatikan konteks dari ayatnya dengan teliti untuk menentukan terjemahan yang benar dari ungkapan ini. Misalnya di Maleakhi 3:1 dimana kita baca:

"Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku [malak], supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat [malak] Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam."

Kata "malak" (malaikat) digunakan dua kali dalam ayat ini. Yang pertama sudah pasti menunjuk kepada Yohanes pembaptis yang diutus mendahului Tuhan Yesus untuk mengabarkan berita tentang Yesus Kristus sebagai "Anak Domba Allah" (Yohanes 1:29). Dan kata "malak" yang kedua jelas menunjuk kepada Tuhan Yesus sendiri, yang adalah pembawa pesan dari Perjanjian itu.

Dalam Perjanjian Lama kata "malak" lebih dari 100 kali diterjemahkan sebagai "malaikat" dan hampir 100 kali diterjemahkan sebagai "pembawa pesan". Biasanya ketika hal itu menunjuk kepada "pembawa pesan" ini sedang berbicara tentang seseorang yang membawa suatu berita kepada orang lain. Tetapi seperti yang kita lihat dalam kitab Maleakhi, pembawa pesan itu juga bisa menunjuk kepada Tuhan sendiri.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata "aggelos" (malaikat) kira-kira 180 kali diterjemahkan sebagai "malaikat" dan 7 kali diterjemahkan sebagai "pembawa pesan".
Misalnya Matius 11:10 berbicara tentang Yohanes pembaptis sebagai "pembawa pesan" (utusan) dari Tuhan, disitu kita baca:

"Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku [aggelos] mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu."

Karena itu kita bisa mengerti sekarang bahwa kata Ibrani "malak" dan kata Yunani "aggelos" yang seringkali diterjemahkan sebagai malaikat harus diperiksa konteksnya dengan teliti untuk menentukan apakah ungkapan itu sedang menunjuk kepada Tuhan sendiri, malaikat atau juga manusia.

Ini menjelaskan tentang kata "malaikat" di Matius 13 dimana sedang Tuhan berbicara mengenai malaikat yang mengumpulkan "hasil panen" pada akhir zaman.

Di Matius 13:36-43 kita baca:

"Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat [aggelos]. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya [aggelos] dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan DARI DALAM KERAJAAN-NYA. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Dalam kebanyakan translasi kata ini diterjemahkan sebagai "malaikat", tetapi siapakah para pembawa pesan dari Kerajaan Allah yang memberitakan Injil kepada dunia untuk mengumpulkan umat-Nya ke dalam --Yerusalem yang baru-- ?

Di Yohanes 4:35-38 kita baca:

"Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."

Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa "para penuai" itu adalah orang-orang percaya. Mereka adalah para pembawa pesan yang diutus untuk memberitakan Injil kepada dunia. Dan ketika Injil diberitakan Roh Kudus akan membuat firman itu bersemayam didalam hati mereka yang sudah dipilih untuk diselamatkan. Jadi mereka yang diselamatkan melalui pemberitaan itu menjadi hasil panen yang dibawa masuk kedalam Kerajaan Allah.

Kembali ke Matius 13:36-41 yang berbicara tentang pemisahan gandum dan lalang, malaikat-malaikat tidak mengumpulkan hasil panen itu. Hasil panen itu dikumpulkan oleh orang-orang percaya yang memberitakan Injil ke seluruh dunia supaya panen, yaitu --orang-orang yang diselamatkan-- dapat dikumpulkan ke dalam Kerajaan Allah.

Jadi dalam perumpamaan "gandum dan lalang" (Matius 13:24-30), gandum itu menunjuk kepada orang-orang percaya yang sudah diselamatkan, dan lalang itu menunjuk kepada orang-orang yang tampak luar seperti gandum tetapi sebetulnya belum pernah diselamatkan. Dan ketika perumpamaan itu berlanjut, orang-orang percaya yang sejati juga disebut sebagai para "pembawa pesan" (penuai) yang mengumpulkan hasil panen gandum pada akhir zaman (final harvest).

Dan di Matius 12:30 Yesus berkata:

"Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

Sumber

Mengukur Kedewasaan Rohani

Dalam kehidupan iman, sering kali kita dibingungkan oleh adanya fenomena yang kadang kala aneh tetapi nyata. Misalnya, kita melihat adanya orang kristiani yang begitu rajin ke Gereja, rajin mengikuti pendalaman rohani atau persekutuan doa, rajin berdoa dan membaca, bahkan Gereja dan paroki menjadi rumahnya yang kedua. Namun dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan sehari-hari kurang mempunyai 'hati' terhadap sesamanya. Bahkan mereka sering dicap sebagai orang yang tidak mempunyai belas kasihan kepada sesamanya. Sebaliknya, kita jumpai pula orang-orang kristiani yang dalam hal menjalankan iman jarang pergi ke gereja, tidak pernah ikut kegiatan lingkungan, tidak pernah membaca alkitab dan bahkan tidak pernah berdoa sama sekali. Namun orang ini begitu baik terhadap sesamanya. Suka membantu sesama yang menderita, menolong mereka yang kesusahan dan juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Pertanyaan kita bisa muncul, mana yang benar, mana yang tepat. Mana yang mesti kita pilih, yang pertama atau yang kedua? Saya tidak akan menjawab mana yang tepat atau mana yang benar, melainkan mau mengajak rekan-rekan untuk melihat diri kita masing-masing. Yang ingin saya angkat melihat fenomena ini adalah sejauh mana kehidupan sehari-hari saya mencerminkan pula kehidupan iman saya. Atau sejauh mana saya dewasa dalam rohani. Apakah kedewasaan rohani itu bisa diukur?. Bila bisa apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur kedewasaan rohani. Bukankah masalah iman merupakan masalah yang sangat pribadi. Masalah relasi antara saya dengan Allah. Lalu siapa yang bisa mengukur apakah saya sungguh beriman atau dewasa dalam menghayati iman atau belum? Yang bisa mengukur kedewasaan adalah saya pribadi. Hal ini memang benar, karena itu bukan hanya soal olah rohani belaka, tetapi juga soal perwujudan, maka kedewasaan rohani bisa diukur dari sisi motivasi, tetapi juga perwujudannya. Kita meyakini bahwa 'iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati'.

Menurut para ahli spiritualist, kita bisa mengukur kedewasaan rohani kita dari beberapa indikasi ini.

1. Adanya keinginan kuat atau kerinduan hati yang teguh untuk menjadi 'suci' dari pada sekedar mengalami kebahagiaan sementara dalam hidup.

2. Mempunyai keutamaan untuk selalu berkeinginan memberi dan memberi dari pada menerima dan diberi atau bahkan menuntut.

3. Selalu merasa mendapat kehormatan bila diberi kesempatan untuk melayani dari pada dilayani.

4. Selalu mengalami kebahagian dalam kehidupan pribadi, baik lahir mau pun batin.

5. Selalu merasa terberkati, selalu merasa bersyukur atas karunia yang telah diterima, dari pada selalu merasa kurang dan ingin memeliki lebih dari apa yang diperlukan.

6. Mampu menerima segala sesuatu dengan sikap 'apa adanya' 'nrima ing pandum' dari pada mengikuti ambisi untuk memiliki segalanya dan menuntut orang lain untuk menjadi sama seperti dirinya.

7. Selalu hidup dalam dunia kasih, segala sesuatunya diukur berdasarkan kasih.

Inilah indikasi yang bisa digunakan untuk mengukur apakah saya sudah merasa mencapai 'kedewasaan rohani', sesuai dengan iman kristiani yang saya yakini. Kasus diatas tidak akan pernah terjadi bila kita merasa yakin bahwa saya selalu berusaha berada dalam jalur tujuh indikasi ini. Apakah menjadi suci sungguh merupakan kerinduan setiap manusia. Apakah Allah menghendaki kita menjadi suci atau....? Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing, tetapi bila kita kembali kepada undangan Jesus sendiri yakni "Jadilah engkau sempurna seperti Bapa sempurna adanya", maka kita akan mengangguk bahwa kesempurnaan hidup, atau kesucian adalah merupakan tujuan akhir setiap orang yang mengakui diri sebagai murid Kristus. Karena pada hakekatnya Tuhan memanggil kita untuk menjadi suci. Ukuran kesempurnaan rohani kita adalah 'untuk menjadi seperti Kristus' dalam segala aspek kehidupanNya. Semoga renungan kecil ini berguna. Selamat berhari Minggu. In Christ ===============

Aluva, India

Arsip

Pengguna baru

  • janniekh16
  • FrankRease
  • Content Spinning
  • StephenkEect
  • cospcolBal

Login Form